Meski Perdagangan Tertekan, Harga Tembaga Berpeluang Kuat

Harga tembaga sepanjang tahun berjalan mengalami pelemahan hampir 7% dinilai mendapatkan tekanan dari beragam sentimen. Namun, para analis melihat bahwa harga tembaga bisa kembali menguat.
Eva Rianti | 21 Maret 2018 20:51 WIB
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga sepanjang tahun berjalan mengalami pelemahan hampir 7% dinilai mendapatkan tekanan dari beragam sentimen. Namun, para analis melihat bahwa harga tembaga bisa kembali menguat.

Harga tembaga di London Metal Exchange (LME) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (20/3) sebesar 99 poin atau 1,44% menjadi US$6.755 per ton, penurunan 4 sesi berturut-turut. Secara year to date (ytd), harga turun 6,79%.

Analis Asia Trade Point Futures (ATPF) Andri Hardianto menuturkan adanya beragam sentimen yang menekan harga tembaga akhir-akhir ini.

Pertama, harga tembaga mengalami pelemahan lantaran ketakutan terjadinya perang dagang yang dapat memicu perlambatan ekonomi global.

“Kondisi pelemahan ini masih terkait dengan ketakutan potensi perang dagang,” kata Andri ketika dihubungi Bisnis, Rabu (21/3/2018).

Kedua, tidak dipungkiri bahwa harga tertekan di tengah spekulasi kenaikan tingkat suku bunga. Andri menuturkan bahwa pelaku pasar telah meyakini hingga 100% bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan oleh The Federal Reserve dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang saat ini tengah berlangsung.

“Kenaikan suku bunga tersebut dapat mengangkat dolar dan menekan harga komoditas [tembaga]. Oleh sebab itu, tampaknya saat ini pelaku pasar marak melakukan aksi jual untuk menghindari gejolak harga,” lanjutnya.

Ketiga, pelemahan harga komoditas juga disebabkan oleh kenaikan stok tembaga di London Metal Exchange (LME). Jumlah stok tembaga di LME telah naik sebesar 3.200 ton yang tercatat pada Selasa (20/3) menjadi 322.475 ton, membawa kenaikan bulan ini mencapai 61%.

Kendati demikian, Andri menambahkan bahwa outlook harga tembaga masih positif. Proyeksi tersebut diasumsikan bahwa supply dan demand masih ketat di pasar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas tembaga

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top