GRUP SALIM: Kinerja 2017 Positif, Ini Faktor Pendorongnya

Emiten Grup Salim berhasil membukukan kinerja yang positif sepanjang tahun lalu seiring dengan adanya perbaikan harga komoditas membaiknya ekonomi domestik.
Novita Sari Simamora | 21 Maret 2018 07:07 WIB
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Franciscus Welirang (tengah), memberikan paparan didampingi Bupati Bojonegoro Suyoto (kanan), dan Staf Ahli Menteri bidang Hukum Kementerian Komunikasi dan Informatika Henri Subiakto, pada seminar nasional Merancang Format Masa Depan Pengumpulan Data Statistik dengan Pemanfaatan Teknologi Informasi di Jakarta, Selasa (26/9). - JIBI/Dwi Prasetya
 Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Grup Salim berhasil membukukan kinerja yang positif sepanjang tahun lalu seiring dengan adanya perbaikan harga komoditas membaiknya ekonomi domestik. 

Lima emiten kelompok Grup Salim yang melaporkan kinerja 2017 berhasil membukukan rerata pertumbuhan penjualan hingga 5,44%. Dua emiten yang berhasil mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi adalah PT London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pramata Tbk. (SIMP).

Kedua emiten itu bergerak di bidang perkebunan. Pendapatan LSIP dan SIMP masing-masing tumbuh 8,88% dan 23,18% secara tahunan, masing-masing senilai Rp15,82 triliun dan Rp4,73 triliun.

Grup Salim memiliki beberapa segmen bisnis yakni ritel, konsumen makanan dan minuman, perkebunan hingga otomotif. Di Indonesia, Indofood Sukses Makmur ditunjuk sebagai induk usaha dari beberapa anak perusahaan.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk. membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik tipis 0,6% menjadi Rp4,17 triliun hingga akhir 2017.

Dalam siaran resmi yang diperoleh Bisnis.com,Selasa (20/3/2018), peningkatan laba tersebut didongkrak oleh penjualan bersih yang terkonsolidasi tumbuh 5,3% menjadi Rp70,19 triliun, dari posisi Rp66,66 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood Anthoni Salim mengungkapkan, kelompok usaha strategi produk konsumen bermerek, Bogasari, agribisnis dan distribusi masing-masing berkontribusi sekitar 50%, 22%, 20% dan 8% terhadap penjualan konsolidasi Indofood Sukses Makmur.

"Di tengah kondisi makro ekonomi yang stabil pada 2017, merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri FMCG karena melemahnya permintaan," tulis Anthoni melalui keterangan resmi, Selasa (20/3/2018).

Meskipun kondisi ekonomi domestik masih penuh tantangan, kata Anthoni, INDF berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional. Dia pun mengharapkan dengan membaikan ekonomi pada 2018, maka bisnis Grup Salim akan semakin mengembang secara dinamis.

Terkait divisi kelompok konsumen bermerek, entitas anak INDF yakni Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan bersih 3,6% year on year menjadi Rp35,61 triliun hingga akhir 2017.

Sepanjang 2017, ICBP mencatatkan bahwa divisi mi instan yang memberikan kontribusi paling tinggi terhadap penjualan hingga 64% dari penjualan bersih. Lalu diikuti oleh divisi dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi & makanan khusus dan minuman yang masing-masing berkontribusi 20%, 7%, 2%, 2% dan 5% terhadap total penjualan ICBP.

Andy Ferdinand, analis Samuel Sekuritas menuliskan dalam riset bahwa industri konsumsi pada tahun ini akan lebih baik. Dia pun memproyeksikan pendapatan dan laba bersih INDF masing-masing bisa tumbuh 6,9% dan 10,1% sepanjang tahun ini. 

Terkait dengan divisi agribisnis, katanya, pada tahun ini, rata-rata harga jual CPO diperkirakan relatif flat dibandingkan tahun lalu, dengan volume produksi dan penjualan yang diperkirakan hanya sedikit meningkat sehingga pertumbuhan EBIT divisi ini pada tahun 2018 tidak setinggi 2017.

Dari lima emiten yang telah merilis laporan keuangan, kalangan emiten dominan memberikan rekomendasi buy untuk saham INDF, ICBP, SIMP dan LSIP. Konsensus Bloombergjuga memproyeksikan, pada tahun ini emiten ICBP dan INDF berpotensi mencatatkan pertumbuhan pendapatan lebih tinggi pada tahun ini.

Adapun estimasi kinerja pendapatan INDF, ICBP, SIMP dan LSIP hingga akhir tahun masing-masing Rp76,77 triliun, Rp39,66 triliun, Rp16,95 triliun dan Rp4,76 triliun, dengan pertumbuhan sepanjang tahun ini masing-masing 9,38%, 11,4%, 7,16% dan 0,52%. 

Untuk PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IMAS), konsensus Bloomberg memprakirakan emiten yang bergerak dibidang otomotif ini masih akan mencatatkan kerugian hingga akhir tahun ini.

Vice President Research & Analyst PT Valbury Sekuritas Indonesia Nico Omer Joncheere mengungkapkan, debt to equity ratio (DER) IMAS sudah di atas 200%. Dia pun mengungkapkan, IMAS masih mencatatkan kerugian dan cash flow yang negatif.

Di sisi lain, Nico lebih merekomendasikan LSIP mengingat price earning ratio (PER) masih rendah, operating profit margin (OPM) dan net profit margin (NPM) yang cukup tinggi. Adapun PER LSIP berada pada level 11,38 kali.

"Bahkan LSIP pada hari ini berhasil naik, di tengah turunnya bursa secara umum," ungkapnya kepada Bisnis.com, Selasa (20/3/2018).

Pada penutupan perdagangan kemarin, saham LSIP berhasil menguat 5 poin menuju level Rp1.275 per saham. Sepanjang tahun ini, saham LSIP pun telah terkontraksi hingga 10,21%.

Dari 23 analis yang disurvei oleh Bloomberg, diperoleh 20 analis merekomendasikan beli untuk saham LSIP, dan 2 analis rekomendasi hold dan satu analis rekomendasikan sell. Konsensus Bloomberg memprakirakan, harga saham LSIP berpotensi mencapai Rp1.689 hingga akhir tahun ini.

 

 
Tag : grup salim
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top