BEI : IPO Cara Efektif untuk Restrukturisasi Beban Utang Valas Tinggi

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Samsul Hidayat, mengatakan bahwa penawaran umum saham perdana merupakan cara yang efektif bagi perusahaan yang banyak berutang dalam dolar untuk merestrukturisasi permodalan.
Emanuel B. Caesario | 20 Maret 2018 13:03 WIB
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio (kedua kanan), Direktur Samsul Hidayat (kiri), Ketua DPR Bambang Soesatyo (kedua kiri) dan vokalis grup musik God Bless Ahmad Albar bernyanyi bersama saat menutup transaksi perdagangan bulan Januari, di Jakarta, Rabu (31/1). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Samsul Hidayat, mengatakan bahwa penawaran umum saham perdana merupakan cara yang efektif bagi perusahaan yang banyak berutang dalam dolar untuk merestrukturisasi permodalan.

Samsul mengatakan, bagi perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS tetapi sumber pendapatan dalam mata uang rupiah akan selalu mengalami tekanan setiap kali dolar menguat.

Saat ini, BEI terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman pelaku usaha tentang manfaat dan pentingnya penawaran umum perdana saham atau IPO.

Situasi pelemahan rupiah yang terjadi saat ini menjadi salah satu contoh yang akan membedakan kinerja emiten dengan struktur modal dalam negeri yang kuat, dengan non-emiten yang mengandalkan utang berbunga rendah dari luar negeri.

“Penting sekali untuk perbaiki modal mereka. Kalau punya utang besar dalam dollar, mereka akan terganggu. Dengan modal yang efisien [dari dalam negeri melalui IPO], harga produksi akan lebih baik, daya saing lebih baik, efeknya adalah peningkatan eksport. Ini akan meningkatkan cadangan devisa dan ini memperkuat struktur ekonomi secara keseluruhan,” katanya, Selasa (20/3/2018).

Atas dasar itu, lanjutnya, upaya mendorong kesadaran perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk IPO merupakan tanggung jawab seluruh pihak.

Seluruh pemangku kepentingan perlu memberi keyakinan pula pada investor dan calon emiten bahwa benar Indonesia negara yang aman, tidak ada hal-hal yang perlu ditakutkan. Ada pemisahan yang tegas antara ekonomi dan politik di Indonesia.

Selama ini, BEI memainkan peran yang lebih mikro sebagai penyelenggara pasar modal untuk mempersiapkan pengusaha dan perusahaan menuju IPO. Banyak perusahaan yang tidak paham bahwa konsep IPO bukanlah menjual aset perusahaan kepada publik, melainkan membagi kepemilikan dengan publik.

Pemilik perusahaan yang semula memiliki sendiri aset perusahaan sebanyak Rp400 miliar, misalnya, kini memilikinya bersama dengan investor publik tetapi dengan nilai Rp1 triliun. Ada peningkatan kekuatan modal dan nilai perusahaan.

Samsul mengatakan, pemilik startup sukses kerap kali hanya memiliki porsi saham yang kecil dalam startup tersebut setelah melepas sahamnya pada banyak investor. Menurutya, yang diincar para pemilik startup ini bukanlah banyaknya saham, tetapi meningkatnya nilai perusahaan seiring kekuatan modal yang bertambah.

“Mereka tidak apa-apa punya 1% saja, tetapi nilainya bisa Rp100 miliar sampai Rp200 miliar,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top