Tahun 2017, EBITDA Antam Naik 96%

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) sebesar Rp2,21 triliun atau tumbuh 96%, sepanjang tahun 2017 lalu.
Mia Chitra Dinisari | 12 Maret 2018 14:08 WIB
Karyawati memperlihatkan emas batangan 88 gram bergambar Shio Anjing Tanah milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam), di Jakarta, Kamis (18/1). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) sebesar Rp2,21 triliun atau tumbuh 96%, sepanjang tahun 2017 lalu.

Peningkatan kinerja 2017 ini, merupakan turning point kedua setelah capaian EBITDA 2016 sebesar Rp1,13 triliun, menyusul naiknya produksi dan penjualan ANTM secara signifikan, serta peningkatan efisiensi dan tren peningkatan harga komoditas.

Perusahaan juga membukukan laba bersih sebesar Rp136 miliar atau tumbuh 111% secara year on year (yoy)  tahun lalu.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo mengatakan kinerja produksi dan penjualan ANTM tahun 2017 adalah yang tertinggi dalam sejarah perusahaan. Tahun lalu, nilai penjualan bersih ANTM tercatat sebesar Rp12,65 triliun. Adapun komoditas emas menjadi komponen terbesar pendapatan perusahaan yakni Rp7,37 triliun, atau 58% dari total penjualan bersih.

Sedangkan penjualan feronikel merupakan kontributor terbesar kedua yakni mencapai Rp3,22 triliun atau 25% dari total penjualan bersih.

Dalam siaran persnya, mereka menyebutkan tahun lalu mampu menjual 13.202 kg emas, atau tumbuh 29% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 10.227 kg. Capaian itu, sejalan dengan strategi pengembangan pasar emas baik domestik dan ekspor serta inovasi produk Logam Mulia.

Sedangkan pendapatan dari penjualan emas ANTM tahun 2017 tercatat Rp7,37 triliun atau naik 33% dibandingkan tahun 2016 yang tercatat sebesar Rp5,54 triliun. Sementara itu, sisi produksi emas ANTM dari tambang Pongkor dan Cibaliung tercatat sebesar 1.967 kg.

Untuk feronikel, penjualan ANTM tumbuh 4% mencapai 21.813 ton nikel dalam feronikel (TNi). Volume produksi feronikel juga tercatat tertinggi sepanjang sejarah Perusahaan yang mencapai 21.762 TNi atau 7% lebih tinggi dibandingkan tahun 2016.

Capaian ANTM di 2017 lainnya yakni mendapatkan izin ekspor bijih nikel kadar rendah (kurang dari 1,7%) sebesar 3,9 juta wet metric ton (wmt) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM).

Selain itu, ANTM tercatat mampu memproduksi bijih nikel sebesar 5,57 juta wet metric ton (wmt) atau naik 241% dibandingkan tahun 2016. Dari angka itu Perusahaan mencatatkan penjualan bijih nikel mencapai 2,83 juta wmt atau naik 285% dibandingkan 2016.

ANTM mencatatkan pendapatan penjualan dari bijih nikel tahun 2017 sebesar Rp1,37 triliun atau tumbuh sebesar 364% dibandingkan 2016 yang tercatat sebesar Rp295 miliar.

Untuk komoditas bauksit, ANTM mampu mencatatkan volume produksi bijih bauksit sebesar 705.322 wmt atau tumbuh sebesar 192% dengan volume penjualan bijih bauksit tercuci mencapai 838.069 wmt, atau naik sebesar 181% dibandingkan 2016.

Sementara itu, pendapatan dari bijih bauksit sebesar Rp398 miliar, atau naik 283% dibandingkan 2016 sebesar Rp104 miliar.

Perusahaan juga mencatatkan peningkatan laba kotor sebesar 93% menjadi Rp1,64 Triliun dibandingkan 2016 Rp851 Miliar, dan sukses membukukan laba usaha tahun Rp600 Miliar, naik tajam 7.264% dibandingkan 2016 sebesar Rp8,15 Miliar.

Tag : antam
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top