Rupiah Berpotensi Kian Terpuruk Gara-Gara Ini!

Bisnis.com, JAKARTA -- Potensi defisit neraca perdagangan pada Februari 2018 dikhawatirkan akan kian memperdalam pelemahan nilai tukar rupiah.
M. Richard | 11 Maret 2018 17:02 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Potensi defisit neraca perdagangan pada Februari 2018 dikhawatirkan akan kian memperdalam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memprediksi neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2018 kembali defisit sebesar US$230 juta.

Jika prediksi tersebut benar, artinya neraca perdagangan mengalami defisit selama 3 bulan berturut-turut. Yakni defisit pada Januari 2018 sebesar US$676,9 juta dan Desember 2017 sebesar US$220 juta.

"Kalau Februari defisit berarti ini tiga bulan berturut-turut kita defisit, tren yg tidak pernah terjadi sejak September 2016," kata Direktur Penelitian Center of Reform on Economics(Core) Indonesia Mohammad Faisal kepada Bisnis, Minggu (11/3/2018).

Seperti diketahui, defisit neraca perdagangan merupakan salah satu faktor yang membuat pelemahan pada nilai tukar. Rupiah sendiri telah terdepresiasi cukup dalam beberapa waktu terakhir. Posisinya saat ini yang berada pada level Rp13.797 per akhir pekan lalu, telah meleset jauh dari asumsi yang dipatok dalam APBN 2018 yakni Rp13.400 per dolar AS.  

Barang imoor yang datang lebih banyak ke pasar domestik membuat dolar lebih banyak dibutuhkan untuk pembayarannya, yang mana membuat permintaan dolar AS lebih kuat.

Di sisi lain, pemerintah dan BI selalu beralasan pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan faktor dari luar negeri, di mana prediksi kenaikan suku bunga The Fed menarik banyak aliran modal mengalir kembali ke kampungnya.

Namun jika dilihat dari tren defisit neraca perdagangan saat ini, kondisi 3 bulan defisit tersebut juga memiliki kontribusi yang tidak kalah besar terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Padahal pemerintah sangat optimistis bahwa pertumbuhan ekspor yang robust akan menjadi motor penggerak kinerja ekonomi.

Sebagai informasi, pemerintah mengandalkan investasi dan ekspor sebagai motor penggerak ekonomi, di mana pertumbuhannya pada 2017 mencapai 13,1% dan 16,2%.

Itu artinya, kata Faisal, strategi pemerintah yang mengandalkan ekspor sebagai motor penggerak ekonomi jelas belum terealisasi.

Hal tersebut disebabkan oleh ekspor komoditas melemah. "Kalau komoditas ekspor melelah neraca langsung defisit karena ekspor manufaktur tidak cukup kuat untuk meredam defisit," jelasnya.

Lebih lanjut, Faisal berharap, pemerintah dan BI untuk dapat segera merespons kondisi ini, sehingga rupiah tidak terdepresiasi terlalu dalam.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top