Komentar Hawkish Powell Picu Pelemahan Harga Minyak WTI

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) bergerak turun pada perdagangan pagi ini, Rabu (28/2/2018), terbebani penguatan dolar AS dan laporan industri yang dikabarkan menunjukkan peningkatan jumlah persediaan minyak mentah AS.
Renat Sofie Andriani | 28 Februari 2018 07:17 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) bergerak turun pada perdagangan pagi ini, Rabu (28/2/2018), terbebani penguatan dolar AS dan laporan industri yang dikabarkan menunjukkan peningkatan jumlah persediaan minyak mentah AS.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2018 diperdagangkan di US$62,81 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 4.39 sore waktu setempat, setelah berakhir di level 63,01 pada perdagangan Selasa (27/2). Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 21% di bawah rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman April 2018 berakhir melemah 87 sen di US$66,63 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London pada perdagangan kemarin. Minyak mentah acuan global tersebut diperdagangkan premium sebesar US$3,62 terhadap WTI.

Dilansir Bloomberg, harga minyak AS melemah setelah American Petroleum Institute dikabarkan melaporkan peningkatan stok minyak mentah AS sebesar 933.000 barel pekan lalu.

Jika kenaikan ini dikonfirmasikan dalam laporan pemerintah yang dijadwalkan akan dirilis hari ini waktu setempat, maka jumlah persediaan akan mengalami kenaikan dalam empat dari lima pekan terakhir.

Laporan API juga dikabarkan menunjukkan peningkatan pasokan bensin sebesar 1,91 juta barel, kenaikan keempat berturut-turut jika data EIA mengonfirmasikannya hari ini. Sementara itu, stok Cushing turun sebesar 1,28 juta barel.

Direktur Eksekutif International Energy Agency Fatih Birol sebelumnya menyatakan para penjelajah minyak mentah AS telah mendorong pertumbuhan eksplosif yang akan berlanjut hingga tahun depan.

Para penjelajah minyak AS telah meningkatkan jumlah rig untuk mencari minyak mentah dalam negeri mencapai level tertinggi sejak 2015, saat upaya pembatasan pasokan yang dipimpin OPEC membangkitkan kembali pasar minyak.

Seiring dengan upaya OPEC untuk mengurangi produksi minyak mentah, produsen justru berkomitmen untuk memenuhi permintaan dan penawaran, menurut Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazrouei pada hari Selasa di Abu Dhabi.

Kepada Bloomberg, Birol menambahkan kuatnya pertumbuhan minyak shale AS dapat menahan upaya tersebut.

“Komentar dari kepala IEA tentang laju pertumbuhan minyak shale AS mungkin telah mengenyahkan sentimen bullish,” kata John Kilduff, seorang partner di Again Capital LLC. “Stok yang lebih besar dan penurunan permintaan penyuling seharusnya menjadi faktor bearish bagi pasar juga.”

Harga minyak juga berada di bawah tekanan karena menguatnya dolar AS yang mengurangi daya tarik komoditas ini. Penguatan greenback mengurangi daya tarik minyak yang diperdagangkan dalam mata uang AS tersebut. 

Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, dikabarkan naik 0,7% menyusul pernyataan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell yang bernada hawkish di depan Parlemen AS pada Selasa (27/2).

Tag : Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top