BEI: Komisi Broker Sesuai Mekanisme Pasar

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyarankan kepada perusahaan sekuritas untuk menyerahkan mekanisme tarif komisi ke pasar, di mana besaran tarif disesuaikan dengan layanan yang diberikan.
Tegar Arief | 28 Februari 2018 09:55 WIB
Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Alpino Kianjaya (kiri) berbincang dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih Sandiaga Uno, di sela-sela pembukaan perdagangan saham dan peresmian OK OCE Stock Center di Jakarta, Jumat (2/6). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyarankan kepada perusahaan sekuritas untuk menyerahkan mekanisme tarif komisi ke pasar, di mana besaran tarif disesuaikan dengan layanan yang diberikan.

Usulan ini disampaikan setelah Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) tidak lagi merekomendasikan penyetaraan tarif komisi karena dianggap kartel oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota PT Bursa Efek Indonesia Alpino Kianjaya menjelaskan, perusahaan sekuritas harus bisa menciptakan inovasi dalam layanan sehingga penyesuaian tarif bisa dilakukan secara natural.

"Bagaimana broker bisa meningkatkan nilai tambah bagi investor agar berani menggunakan jasanya. Kalau layanan bagus, analis bagus, banyak investor yang berani membayar dengan harga tinggi," kata dia di Gedung BEI, Selasa (27/2/2018).

Nilai tambah yang dimaksud adalah masukan perusahaan efek kepada klien yang memuaskan, analisa yang sejalan dengan kondisi pasar, serta berbagai laporan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.

Dia menambahkan, mekanisme ini telah berlaku di banyak negara. Artinya, banyak perusahaan efek yang menyediakan layanan prima dengan tarif cukup mahal. Namun demikian, tidak sedikit juga perusahaan efek yang menetapkan tarif cukup murah, namun layanan yang diberikan juga minim.

"Contoh, ada anggota bursa yang menyediakan platform online dan bisa diakses di smartphone. Ini pasti banyak yang masuk, karena dia berinovasi," ujarnya.

Di sisi lain, Alpino juga meminta kepada perusahaan sekuritas untuk menambah modal. Ini sejalan dengan rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan menaikkan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD).

Tujuannya, agar perusahaan sekuritas bisa melakukan ekspansi atau perluasan pasar. Pasalnya saat ini masih banyak masyarakat atau investor yang belum memiliki informasi mengenai tata cara berinvestasi di pasar saham.

"Mereka [perusahaan efek] harus punya kekuatan untuk investasi, untuk ekspansi pasar. Selain itu penambahan modal juga bisa membuat broker lebih kuat," ujarnya.

Kuatnya modal yang dimiliki oleh Anggota Bursa (AB) tersebut akan meningkatkan kinerja dan produktivitas. Perusahaan bisa melakukan penambahan cabang dan meningkatkan inovasi untuk menjaring investor lebih banyak.

Sementara itu, pendapat berbeda disampaikan oleh Direktur Utama MNC Sekuritas Susy Meilina yang menilai ketahanan perusahaan sekuritas akan terjaga jika ada penyetaraan tarif.

Dengan adanya tarif yang setara maka perusahaan efek bisa mendapatkan keuntungan dan mampu meningkatkan modalnya. "Harusnya soal tarif terus dibahas lagi. Karena sekuritas harus untung, kalau tidak maka modal tidak bertambah," keluhnya.

Dia menilai, tarif komisi yang ideal untuk perusahaan sekuritas sebesar 0,25%. Adapun sebelumnya APEI telah merekomendasikan besaran tarif komisi, yakni 0,2% dan untuk transaksi jual sebesar 0,3%. Adapun untuk transaksi perdagangan elektronik atau online trading batas bawahnya sebesar 0,18%.

Tag : bei
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top