Harga Batu Bara Melonjak Lebih dari 1% Mengekor Minyak

Harga batu bara berhasil kembali membukukan penguatan pada akhir perdagangan Kamis (22/2/2018), setelah tergelincir ke zona merah pada sesi perdagangan sebelumnya.
Renat Sofie Andriani | 23 Februari 2018 07:50 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara berhasil kembali membukukan penguatan pada akhir perdagangan Kamis (22/2/2018), setelah tergelincir ke zona merah pada sesi perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis, harga batu bara untuk kontrak Mei 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, berakhir menguat 1,46% atau 1,25 poin di US$86,75/metrik ton.

Adapun pada perdagangan Rabu (21/2), harga batu bara kontrak Mei 2018 ditutup melemah 1,04% atau 0,90 poin di level 85,50, setelah mampu reli selama tiga hari berturut-turut.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Kamis (22/2), saat cadangan minyak AS secara tak terduga menyusut dan ekspor melonjak.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman April 2018 berakhir menguat 1,8% atau 1,09 poin di posisi US$62,77 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan sekitar 6% di bawah rata-rata 100 hari terakhir.

Brent untuk kontrak April naik 0,97 poin dan ditutup di level US$66,39 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Patokan minyak global ini diperdagangkan lebih mahal US$3,62 dibanding WTI pada bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, WTI menguat setelah laporan Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah turun 1,62 juta barel pekan lalu, yang merupakan penurunan terbesar dalam lima pekan terakhir. Angka ini berbanding terbalik dengan survei Bloomberg sebelumnya yang memperkirakan penurunan 2,9 juta barel.

Pada saat yang sama, pasokan minyak mentah dari fasilitas penyimpanan di Cushing, Oklahoma, ke kapal tanker di Gulf Coast membuat ekspor melonjak 55% menjadi 2 juta barel per hari, terbesar sejak Oktober.

“Angka persediaan lebih baik dari perkiraan,” ungkap Craig Bethune, manajer portofolio senior Manulife Asset Management, seperti dikutip Bloomberg.

"Pasar khawatir dengan kenaikan produksi AS, jadi selama masih ada laporan persediaan yang sehat, hal ini akan membantu mengurangi beberapa kekhawatiran," lanjutnya.

Sementara itu, upaya pemangkasan output dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak IOPEC) menekan pasokan global. Pengiriman OPEC diperkirakan turun 300.000 barel per hari dalam empat pekan ke depan, menurut data Oil Movements.

Pergerakan harga batu bara kontrak Mei 2018 di bursa Rotterdam

Tanggal                                    

US$/MT

22 Februari

86,75

(+1,46%)

21 Februari

85,50

(-1,04%)

20 Februari

86,40

(+1,59%)

19 Februari

85,05

(+2,41%)

16 Februari

83,05

(+0,85%)

 

 

 

 

 

 Sumber: Bloomberg

 

Tag : Harga Minyak, harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top