Pemerintah Akan Perkecil Batas Minimal Investasi di SBN Ritel Online

Pemerintah membuka wacana untuk menerbitkan instrumen surat berharga negara (SBN) ritel online dengan batas minimal investasi lebih rendah dari Rp5 juta.
Emanuel B. Caesario | 23 Februari 2018 16:55 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah membuka wacana untuk menerbitkan instrumen surat berharga negara (SBN) ritel online dengan batas minimal investasi lebih rendah dari Rp5 juta.

Direktur Jenderal Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan bahwa SBN ritel online merupakan surat utang pemerintah yang dijual kepada investor ritel secara online.

Hal ini merupakan terobosan baru pemerintah yang akan dimulai tahun ini. Rencananya, instrumen tersebut akan diterbitkan pada kuartal kedua tahun ini. Namun, sejauh ini pemerintah belum menetapkan indikasi awal target penerbitannya.

“SBN ritel online itu sesuatu yang baru. Jadi, untuk jumlah minimumnya bisa Rp5 juta, Rp1 juta atau Rp500 ribu. Targetnya malah di kuartal kedua [tahun ini],” katanya dalam konferensi pers usai pembukaan masa penawaran, Jumat (23/2/2018).

Luky mengatakan, meski memiliki wacana untuk menurunkan besaran batas investasi minimal, pemerintah belum mengambil keputusan berapa besaran final minimal investasi SBN ritel online tersebut.

Menurutnya, instrumen ini bertujuan menjaring pasar investor ritel yang lebih dalam lagi, yakni mereka dengan kemampuan investasi lebih rendah. Lagi pula, perdagangannya akan dilakukan secara online sehingga idealnya nilai minimum invesasinya tidak terlalu tinggi.

Adapun, tahun ini pemerintah menargetkan alokasi penerbitan surat utang yang menyasar investor ritel mencapai Rp30 triliun. Jumlah tersebut terbagi dalam tiga instrumen, yakni ORI, sukuk ritel, dan SBN ritel online. Pemerintah belum memutuskan besaran masing-masing.

Rencana tersebut sejauh ini sudah dibicarakan pemerintah dengan kalangan sekuritas dan bank yang menjadi rekanan pemeritah dalam pemasaran insturmen surat utang pemerintah. Hal ini juga menjadi perhatian banyak analis.

I Made Adi Saputra, Kepala Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa batas minimal investasi yang semakin rendah akan lebih memungkinkan investor-investor pemula, terutama kalangan milenial, mulai berinvestasi di instruman surat utang pemerintah.

Di sisi lain, investor dengan nilai investasi yang kecil cenderung lebih toleran terhadap kecilnya kupon. Dengan demikian, isu kupon yang terlalu rendah tidak akan lagi terlalu menjadi masalah bagi emisi surat utang pemerintah.

““Kalau size minimalnya di bawah Rp1 juta, kupon 5,75% pun sudah luar biasa sebetulnya untuk mahasiswa dan generasi milenial. Secara psikologis, bagi investor pemula yang baru masuk dengan dana tidak besar, return seperti itu dengan dana investasi Rp100 ribu sampai Rp250 ribu masih menarik,” katanya.

Made mengatakan, investor ritel pemula sudah bisa membeli reksadana dengan invetasi kurang dari Rp500 ribu. Dengan nilai yang kecil, investasi terasa seperti menabung saja sehingga tingkat kupon tidak menjadi tuntutan serius.

Hal ini berbeda ketika batas investasinya Rp5 juta seperti saat ini. Dengan dana yang lebih besar seperti itu, sudah ada lebih banyak produk yang bisa dibeli di pasar dengan tawaran imbal hasil yang lebih menarik.

Tag : sbn
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top