Yield Indonesia Naik Agresif, Bagaimana Prospeknya ke Depan?

Setelah mampu bertahan di tengah tekanan peningkatan yield surat utang global sepanjang Januari 2018 lalu, yield Surat Utang Indonesia pada Februari 2018 mulai naik cukup agresif. Walaupun demikian, sejumlah analis meyakini yield Indonesia akan bergerak di level yang dapat ditoleransi.
Emanuel B. Caesario | 22 Februari 2018 07:37 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Pasar Obligasi: Yield Indonesia Mulai Meningkat Agresif

Bisnis.com, JAKARTA—Setelah mampu bertahan di tengah tekanan peningkatan yield surat utang global sepanjang Januari 2018 lalu, yield Surat Utang Indonesia pada Februari 2018 mulai naik cukup agresif. Walaupun demikian, sejumlah analis meyakini yield Indonesia akan bergerak di level yang dapat ditoleransi.

Berdasarkan data perbandingan yield surat utang tenor 10 tahun dari sejumlah negara oleh Asian Bonds Online per Rabu (21/2), yield Indonesia sudah meningkat sebesar 20,4 bps sepanjang Februari 2018. Di saat yang sama, yield US Treasury hanya naik 18,5 bps, meskipun bila diukur sejak awal tahun sudah naik 48,4 bps ke level 2,890%.

Peningkatan yield Indonesia pada Februari berada di posisi kedua tertinggi setelah Filipina yang meningkat 67,2 bps. Yield Filipina memang terus meningkat sejak awal tahun dan menjadi negara yang paling mengalami tekanan surat utang pada awal tahun ini.

Bila diukur sejak awal tahun, yield Filipina sudah meningkat 118 bps ke posisi 6,879%, sementara Indonesia hanya 15,2 bps ke 6,471%. Padahal, tahun lalu yield Filipina masih sempat di posisi 4,5% dan selalu lebih rendah dibandingkan Indonesia.

Tekanan di pasar surat utang global bahkan juga mulai menyebabkan yield Vietnam yang sejak awal tahun turun paling tinggi pun kini mulai meningkat. Sepanjang Februari yield Vietnam sudah meningkat 6,2 bps, sehingga secara year to date penurunannya menjadi tinggal 84,2 bps ke posisi 4,362%.

Sementara itu, negara-negara lain yang lebih dahulu mengalami peningkatan yield sejak awal tahun justru relatif lebih stabil sepanjang Februari. Peningkatan yield Indonesia sepanjang Februari justru sudah melampaui peningkatan yield negara-negara tersebut sejak awal tahun (lihat tabel).

Sepanjang Februari, yield China tidak berubah dari posisi 4,09%, Hongkong naik 0,5 bps ke 2,038%, Korea Selatan naik 4 bps ke 2,810%, Malaysia naik 7 bps menjadi 4,026%, Singapura naik 18,5 bps menjadi 2,890%, dan Thailand naik 8 bps menjadi 2,427%.

Siswa Rizali, Presiden Direktur Asanusa Asset Management, mengatakan bahwa saat ini tekanan di pasar global memang meningkat karena ekspektasi terhadap peningkatan suku bunga the Fed semakin tinggi seiring membaiknya data tenaga kerja, proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi Paman Sam.

Negara-negara yang semula mampu mempertahankan penurunan yield di awal tahun ini pun kini mulai mengalami peningkatan yield, seperti Indonesia dan Vietnam.

Selama ini Indonesia masih cukup mampu bertahan karena ditopang data-data fundamental ekonomi Indonesia cukup positif, sehingga sentimen global menjadi satu-satunya faktor penekan pasar obligasi Indonesia.

Sementara itu, peningkatan yield yang sangat agresif di Filipina di awal tahun ini disebabkan karena peningkatan inflasi Filipina yang signifikan, bahkan mencapai 4% pada Januari 2018, serta melemahnya neraca transaksi berjalan mereka.

“Lagi-lagi ini karena dinamika global. Biasanya setiap ada kenaikan yield di negara maju dan disertai ada ekspektasi pembalikan arah capital flow itu akan sensitive terhadap negara yang yieldnya rendah. Namun, karena market Indonesia, Filipina dan India kurang likuid, negara-negara ini yang malah naik lebih tinggi duluan,” katanya, Rabu (21/2/2018).

Dirinya menilai, peningkatan ekonomi dunia akan mempengaruhi pergerakan yield US Treasury, sehingga peningkatan yang sudah terjadi di pasar Indonesia, Filipina, atau bahkan India sudah menunjukkan nilai wajarnya. Yield India sepanjang Februari meningkat 28 bps ke posisi 7,71%.

“Jangan-jangan yield Indonesia, Filipina dan India ini sudah oke, malahan seperti Thailan, Malaysia yang belum ada dinamika di pasarnya belum kelihatan itu yang justru perlu diwaspadai,” katanya.

Siswa menilai, sejauh ini rentang pergerakan yield Indonesia masih di posisi wajar. Spread atau selisih antara yield US Treasury dengan SUN dianggap wajar bila masih sekitar 3,5%. Artinya, yield wajar SUN dalam kondisi tenang adalah di kisaran 6,3% hingga 6,7% saat ini.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa gejolak yang terjadi di pasar obligasi global saat ini menyebabkan surat utang jangka pendek di pasar negara maju menjadi lebih menarik, sehingga mendorong aliran dana investor ke sana.

Menurutnya, hal tersebut merupakan dinamika yang sangat wajar di pasar obligasi global. Investor mengejar potensi short term gain dengan melakukan trading di pasar US Treasury, sementara di sisi lain mendapat momentum untuk profit taking di negara berkembang seperti Indonesia.

Ramdhan mengatakan, pasar obligasi Indonesia saat ini masih relatif kuat meski koreksi memang mulai terjadi. Ini terbukti dari peningkatan yield SUN yang sejauh ini tidak lebih tinggi dibandingkan peningkatan yield US Treasury.

Meski begitu, Ramdhan memandang masih ada potensi peningkatan lebih lanjut di yield SUN, yang artinya pelemahan pasar obligasi Indonesia masih akan berlanjut. Peluang bagi yield US Treasury sendiri untuk meningkat hingga level 3% masih terbuka tahun ini akibat membaiknya ekonomi di sana.

“Masih ada potensi pelemahan di pasar kita, market sekarang masih wait and see, belum ada capital inflow yang banyak dan masih ada tekanan jual di pasar. Saya kira yield kita masih berpotensi melemah mungkin ke 6,5% hingga 6,6%,” katanya.

Ramdhan mengatakan, untuk menjaga pasar obligasi Indonesia memang dibutuhkan peningkatan aktivitas dari kelompok investor domestik. Kepemilikan asing yang kini masih sekitar 40% di pasar obligasi pemerintah Indonesia menyebabkan kerentanan akan terus berlanjut.

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top