Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, KCIC Tambah Ekuitas Rp1,2 Triliun

Perusahaan patungan Indonesia dan China, PT Kereta Cepat Indonesia China, akan mendapatkan tambahan ekuitas senilai Rp1,2 triliun dari dua pemegang saham untuk dana tambahan akuisisi lahan.
M. Nurhadi Pratomo | 21 Februari 2018 13:33 WIB
Kereta cepat China - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan patungan Indonesia dan China, PT Kereta Cepat Indonesia China, akan mendapatkan tambahan ekuitas senilai Rp1,2 triliun dari dua pemegang saham untuk dana tambahan akuisisi lahan.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwi Windarto menjelaskan bahwa sejauh ini digunakan dana yang berasal dari ekuitas untuk keperluan akuisisi lahan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Total ekuitas yang telah digunakan oleh perseroan senilai Rp4 triliun.

Dwi mengatakan langkah tersebut ditempuh menyusul belum cairnya pinjaman dari China Development Bank (CDB) untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Dengan demikian, dalam waktu dekat para pemegang saham akan kembali menambah ekuitas untuk keperluan akuisisi lahan.

“Sedang persiapan pencairan ekuitas dan rencananya akan ada Rp1,2 triliun dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia [PSBI] dengan Beijing Yawan HSR Co. Ltd,” ujarnya kepada Bisnis.com, di Jakarta, Selasa (20/2).

Terkait pencairan dana dari CDB, dia berharap pencairan dapat dilakukan pada Maret 2018. Saat ini, pembebasan lahan telah mencapai 54%.

“Kalau dari CDB mensyaratkan 53% jadi kami sudah comply,” imbuhnya.

Dwi menambahkan saat ini progres pengerjaan konstruksi mencapai 10%. Pengerjaan tersebut berlokasi di beberapa titik seperti Cimahi, Walini, dan Padalarang.

Sementara itu, Chairman Pilar Sinergi BUMN Indonesia Sahala Lumban Gaol menyatakan kontraktor meyakini pekerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dapat selesai tepat waktu. Artinya, proses konstruksi akan rampung pada 2020.

Sahala mengatakan akuisisi lahan ditargetkan 100% selesai pada April 2018. Dengan demikian, seluruh pembebasan lahan sampai dengan Jawa Barat dapat rampung pada periode tersebut.

“Pasti, kontraktor sangat yakin selesai [pada 2020],” ujarnya.

Sebagai catatan, PSBI merupakan pemegang saham mayoritas dengan porsi kepemilikan 60% di KCIC. Sisanya, 40% saham dimiliki oleh konsorsium korporasi China.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung memiliki nilai investasi US$5,14 miliar atau setara Rp70,8 triliun. Kebutuhan tersebut akan dipenuhi dari setoran modal sebesar 25% dari pemegang saham KCIC dan sisanya sekitar 75% akan dibiayai pinjaman perbankan.

Sementara itu, WIKA merupakan pemegang saham mayoritas di PSBI. Perusahaan tersebut dibentuk bersama BUMN lainnya yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Tbk., untuk menggarap proyek kereta cepat. Nilai kontrak yang ditangani WIKA untuk proyek tersebut senilai US$1,29 miliar.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan telah melakukan pembicaraan dengan para pemangku kepentingan untuk progres proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Pihaknya ingin memastikan pengerjaan tetap dijalankan oleh kontraktor.

"Kereta cepat tadi kita lagi bicara, buka angka-angkanya supaya kita tahu di mana kelemahannya kita perbaiki,” jelasnya. (M. Nurhadi Pratomo)

Tag : proyek kereta cepat jakarta-bandung
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top