BI: Depresiasi Nilai Tukar Mata Uang Terjadi Hampir di Seluruh Dunia

Depresiasi nilai tukar rupiah bukan karena lemahnya struktur moneter nasional, tetapi dikarenakan adjusment dari pasar global.
M. Richard | 16 Februari 2018 11:27 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Depresiasi nilai tukar rupiah bukan karena lemahnya struktur moneter nasional, tetapi dikarenakan adjusment dari pasar global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan pelemahan nilai tukar lebih disebabkan karena adjustment investor global yang kembali memilih Amerika sebagai tujuan investasinya.

"Jadi hal ini [depresiasi nilai tukar rupiah karena] ada adjustment di pasar kemudian berdampak pada kurs di hampir seluruh dunia, seluruh kurs melemah terhadap dolar," katanya dalam Konfrensi Pers BI di Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Dia menjelaskan, dolar yang awalnya melemah pada Januari, lalu kembali menguat pada Februari, yang mana puncaknya berada pada 9 Februari lalu, yakni sekitar Rp13.640 per dolar.

Adapun Mirza mengatakan, rupiah melemah terhadap dolar 1,76%, rubel (mata uang Rusia) melemah 3,8%, turk lirasi (mata uang Turki) melemah 1,8%, real brazil (mata uang Brazil) 3,4%, dolar singapura melemah 3,1%, dan won korea melemah 1,4%.

"Jadi memang pelemahan terjadi di berbagai currency di seluruh dunia," pungkasnya.

Menurut Mirza, faktor utama penyebab investor global melakukan adjustment, dan memindahkan capitalnya ke Amerika adalah terbitnya data ekonomi dari pemerintah Amerika yang menunjukkan pengatan ekonominya.

"[Dalam data tersebut dijelaskan bahwa], sektor ketenaga kerjaanya menguat, diluar dari perkiraan, kemudian inflasi, maka kemudian pelaku pasar surprise," jelasnya.

Selain itu, Mirza menambahkan, ada juga faktor dari US treasury yield tenor 10 tahun juga bergerak, dari yang 2,2% di awal September menjadi 2,9%.

Senada dengan Mirza, Gubernur BI Agus Mawtowardojo mengatakan efek pelemahan currency terhadap dolar terjadi hampir diseluruh dunia.

Hal tersebut dikarenakan, investor global yang telah melihat banyak komponen pertumbuhan ekonomi di Amerika sudah mulai membaik.

"Ditandai dengan kemajuan investasi, konsumsi, dan penciptaan lapangan kerja, ditambah lagi kemungkinan FED fund rate yang naik tiga kali tahun ini, atau ada kemungkinan lebih dari pada itu," jelas Agus.

Jadi katanya, hal tersebut yang membuat instability di pasar nilai tukar mata uang global.

Tag : nilai tukar rupiah
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top