Kinerja Emiten Kawasan Industri Bakal Pulih Tahun Ini?

Kinerja perekonomian yang perlahan semakin membaik meningkatkan optimisme emiten pengembang kawasan industri tahun ini. Ada harapan permintaan lahan industri akan mulai meningkat lagi setelah terus melemah sejak 2012.
Emanuel B. Caesario | 15 Februari 2018 08:14 WIB
Foto udara kawasan industri yang terdapat di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/1). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Harapan Baru Emiten Kawasan Industri

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja perekonomian yang perlahan semakin membaik meningkatkan optimisme emiten pengembang kawasan industri tahun ini. Ada harapan permintaan lahan industri akan mulai meningkat lagi setelah terus melemah sejak 2012.

Tahun 2017, kinerja penjualan lahan industri sejumlah emiten membaik, bahkan beberapa emiten melampaui targetnya. Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan bisnis kawasan industri sudah pulih kembali.

Berdasarkan riset Colliers International Indonesia, puncak penjualan lahan industri Jabodetabek terjadi pada 2011 dengan realisasi lebih dari 1.200 ha. Namun, pada 2012 realisasinya menjadi hanya sedikit di atas 600 ha.

Ferry Salanto, Associate Director Colliers International Indonesia, mengatakan penjualan terus turun hingga puncaknya pada 2016 lalu kurang dari 200 ha. Namun, tahun lalu sudah membaik dengan realisasi penjualan di atas 200 ha.

“Tahun ini kami melihat masih bisa tumbuh lagi, tetapi rasanya tidak lebih dari 10% karena ada beberapa kawasan industri yang masih berjuang untuk jualan,” kata Ferry belum lama ini.

Kinerja yang cukup baik pada tahun lalu membuat PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) lebih optimistis tahun ini. BEST berhasil menjual lahan 42 ha, lebih tinggi dari targetnya 30-40 ha. Oleh karena itu, target tahun ini ditingkatkan menjadi 35-45 ha.

Sandy Budiman, Investor Relation Bekasi Fajar Industrial Estate, mengatakan realisasi investasi yang dicatat BKPM terus meningkat dari 2012 lalu. Tahun lalu, realisasi investasi tumbuh 13% yoy menjadi Rp692 triliun.

Sandy mengatakan, BEST optimistis dengan prospek bisnis kawasan industri sebab ekonomi Indonesia kini terus membaik dan mendapat pengakuan internasional. Peringkat kemudahan berusaha Indonesia sudah meningkat 19 peringkat ke posisi 72, lebih baik dari China dan India.

Ekonomi yang semakin membaik ini membuatnya percaya target investasi BKPM tahun ini senilai Rp863 triliun bisa tercapai. Pasar yang besar di Indonesia sangat menarik bagi investasi global dan ini menjadi makin menarik karena struktur ekonomi Indonesia juga membaik berkat paket-paket kebijakan pemerintah.

“Meskipun 2 tahun ini faktor politik akan cukup besar pengaruhnya, tetapi kami masih optimis. Ketertarikan investor untuk membuka industri juga masih cukup besar, baik perusahaan lokal maupun asing,” katanya pekan lalu.

BEST tengah memperbaiki struktur keuangannya dengan menaik pinjaman sindikasi US$75 juta, yang bisa ditingkatkan sebesar US$55 juta lagi. BEST mengantongi inquiries baru cukup besar, sekitar 76,5 ha. Membaiknya permintaan meyakinkan BEST untuk mencoba meningkatkan harga jual lahannya dari kisaran Rp2,6 juta - Rp3 juta menjadi Rp2,6 juta – Rp3,2 juta.

PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) dengan kawasan industrinya yakni Kota Deltamas juga mengaku optimistis, tetapi masih relatif konservatif mematok target prapenjualan atau marketing sales. Optimisme ini didukung oleh tren permintaan kawasan industri yang tengah didominasi sektor terkait otomotif.

Hermawan Wijaya, Direktir Puradelta Lestari, mengatakan bahwa di Kota Deltamas saat ini sudah beroperasi tiga perusahaan otomotif raksasa yang menguasai 40% pangsa pasar otomotif Indonesia, yakni Mitsubishi, Suzuki, dan Wuling.

Hadirnya tiga merek besar ini akan menarik lebih banyak permintaan lahan industri dari perusahaan-perusahaan lebih kecil pendukung sektor otomotif. Permintaan lahan dalam jumlah kecil umumnya lebih cepat prosesnya dan lebih mahal harga jualnya. Kini, sudah ada 100 ha inquiries yang diterima DMAS.

“Tahun ini kita target luasan sekitar 40 ha, tetapi harga jual kita coba tarik ke atas sekitar 15%-20% [dari Rp1,7 juta/m2]. Jadi, nilai penjualannya akan sama seperti tahun lalu sekitar Rp1 triliun, walaupun luasnya turun [dari tahun lalu 59,1 ha],” katanya.

PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) juga lebih agresif mematok target tahun ini yakni 15 ha, meskipun realisasi penjualan tahun lalu hanya 2,1 ha.

SSIA pun sudah siap dengan strategi jangka panjang, yakni pembukaan kawasan industri baru di Subang, Jawa Barat, seiring makin terbatasnya sisa cadangan lahan di kawasan industri Suryacipta, Kawarang, Jawa Barat, yang tinggal 140 ha.

"Kita soft tahun lalu. Tahun ini mau target 15 hektare dengan harga US$150 per meter persegi. Saat ini kita sudah ada beberapa inquiry yang beberapa bisa jadi penjualan," kata Erlin Budiman, Investor Relation SSIA.

Hingga Desember 2017, SSIA sudah membebaskan 850 ha di Subang dan tahun ini akan ditambah 260 ha. Infrastruktur kawasan industri Subang akan dimatangkan tahun ini dan mulai dipasarkan tahun depan.

Total belanja modal tahun ini untuk tambahan akusisi dan infrastruktur akan mencapai Rp800 miliar. Kawasan industri ini sangat prospektif karena akan didukung kehadiran pelabuhan laut dalam Patimban, Subang, yang tengah dibangun.

Richardson Raymond, Analis Sinarmas Sekuritas, mengestimasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini 5,3%. Ini akan mendukung kepercayaan diri investor untuk meningkatkan kapasitas industrinya di Indonesia.

Richardson menilai, ada lebih banyak katalis positif dibandingkan resiko bagi kinerja sektor kawasan industri. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman baru-baru ini membuka diskusi tentang Kawasan Ekonomi Khusus Bekasi-Cikarang untuk meningkatkan investasi dan peluang kerja di koridor ini.

Pemerintah tidak akan memberi insentif fiskal, tetapi penyederhanaan proses perizinan bisnis bagi investor di KEK yang sudah menjadi pusat kawasan industri ini.

Selain itu, sudah ada Perda 1/2014 tentang RDTR dan Peraturan Zonasi DKI Jakarta yang mengharuskan pabrik di Jakarta untuk direlokasi ke kawasan industri. Ini juga akan kian meningkatkan permintaan lahan industri baru di luar Jakarta.

“Risiko mungkin akan muncul dari pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari yang diharapkan, ketidakstabilan politik dan batasan harga lahan oleh pemerintah. Meski begitu, kami percaya faktor positif akan mengalahkan faktor negatif,” ungkapnya dalam riset awal tahun ini.

Sinarmas Sekuritas memberi penilaian overweight terhadap sektor ini dan memberi rekomendasi beli untuk DMAS (target Rp240) dan BEST (target Rp330).

Sementara itu, CIMB Sekuritas memberi rekomendasi add untuk SSIA dengan target Rp750. Realisasi penambahan lahan di Subang oleh SSIA lebih cepat dari estimasi CIMB Sekuritas. SSIA juga tengah bernegosiasi dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. untuk membangun tol ke arah Patimban, yang mana proposalnya akan diajukan pada kuartal III/2018.

Hadirnya banyak infrastruktur di kawasan timur Jakarta seperti sejumlah ruas tol, bandara, pelabuhan dan kereta api akan sangat menguntungkan emiten-emiten kawasan industri di sana. Pada akhirnya, komitmen pemerintah pula yang akan menentukan prospek bisnis kawasan industri masa depan, yang sejatinya sangat banyak efek dominonya bagi perekonomian secara umum.

Tag : kawasan industri
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top