PASAR OBLIGASI: Investor Kembali Wait and See

Aktivitas transaksi investor obligasi domestik sepanjang Februari jauh lebih terbatas setelah pada Januari 2018 lalu mencapai rekornya. Investor kini cenderung bersikap wait and see hingga ada kepastian kebijakan ekonomi bank sentral Amerika Serikat.
Emanuel B. Caesario | 12 Februari 2018 21:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Aktivitas transaksi investor obligasi domestik sepanjang Februari jauh lebih terbatas setelah pada Januari 2018 lalu mencapai rekornya. Investor kini cenderung bersikap wait and see hingga ada kepastian kebijakan ekonomi bank sentral Amerika Serikat.

Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), rata-rata volume transaksi harian Surat Berharga Negara (SBN) pada Januari 2018 mencapai Rp22,62 triliun, sementara frekuensinya mencapai 1.395 kali.

Ini meningkat drastis dibandingkan rata-rata transaksi sepanjang 2017. Transaksi bulanan tertinggi pada 2017 terjadi pada September 2017, itu pun dengan volume Rp19,75 triliun dan frekuensi 1.363 kali.

Dalam bulan-bulan lainnya, volume transaksi umumnya tidak lebih dari Rp15 triliun per hari dengan frekuensi kurang dari 1.000 kali per hari.

IBPA mencatat, arus transaksi yang tinggi terutama terjadi pada pekan-pekan pertama Januari 2018. Saat itu, pasar obligasi domestik baru mendapat sentimen positif baru dari kenaikan peringkat oleh Fitch Ratings. Investor yang sudah terlanjur tutup buku saat rilis peringkat baru tersebut di akhir Desember 2017 langsung menyerbu pasar di awal Januari begitu pasar dibuka.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pada Januari 2018 para manajer investasi cukup aktif mengumpulkan portofolio baru.

Hal ini tercermin juga dari hasil lelang SUN dan sukuk di pasar perdana yang mencapai penawaran tertinggi sepanjang sejarah. Penawaran SUN pada dua kali lelang di Januari mencapai Rp86,2 triliun dan Rp72,47 triliun.

Investor yang gagal mendapatkan instrumen investasi di pasar perdana lantas melakukan pembelian di pasar sekunder sehingga pasar menjadi sangat aktif dan likuid. Hal ini tidak terlepas pula dari hadirnya seri-seri baru yang menjadi seri acuan SUN tahun ini.

Namun, ceritanya berubah di awal Februari. IBPA mencatat rata-rata volume transaksi sejak awal Februari hingga Jumat pekan lalu hanya Rp15,89 triliun per hari dengan frekuensi hanya 655 kali per hari.

Permintaan investor di pasar perdana pun tidak lagi setinggi sebelumnya. Pada lelang 30 Januari 2018 penawaran investor menjadi tinggal 47,23 triliun. Ramdhan memandang, pada lelang SUN esok [hari ini, Selasa 13/2/2018] penawaran investor akan relatif sama, sedikit di atas Rp40 triliun.

Ramdhan mengatakan, sejak awal Februari investor kurang aktif bertransaksi di pasar karena mengantisipasi adanya sentimen global yang cenderung negatif. Di sisi lain, investor asing melakukan tekanan jual sehingga menyebabkan terjadinya koreksi di pasar.

Tekanan yang terjadi di pasar global terutama karena meningkatnya ekspektasi inflasi Amerika Serikat setelah data ketenagakerjaan menujukkan peningkatan signifikan. Hal ini mendorong terjadinya tekanan jual di pasar modal dan menghantar yield US Treasury merangkak naik.

Pasar kian khawatir hal ini akan direspons the Fed dengan lebih banyak menaikkan suku bunga acuan tahun ini. Kekhawatiran pasar menyebabkan terjadinya capital outflow di pasar negara-negara berkembang dan menyebabkan tertekannya nilai tukar rupiah dan turunnya harga obligasi Indonesia sepanjang Februari.

Ramdhan menilai, investor belum akan kembali agresif bertransaksi obligasi dalam waktu dekat. Meskipun makro ekonomi Indonesia sebenarnya dalam kondisi yang cukup baik, investor cenderung menunggu kepastian eksternal, terutama kebijakan the Fed. Paling tidak, kondisi makro ekonomi Indonesia menahan kejatuhan pasar menjadi tidak terlalu dalam.

“Saya rasa masih akan landai hingga menjelang siding the Fed. Grafiknya masih akan landai dan cenderung turun secara harga atau naik yield-nya, tetapi tidak akan terlalu tajam,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, indeks obligasi komposit atau Indonesia Composite Bond Index (ICBI) hingga Jumat (9/2/2018), ICBI sudah turun 0,91% menjadi 245,22 dari posisi tertingginya tahun ini pada Minggu (21/1/2018) di level 247,46.

Meski begitu, dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2017, ICBI masih lebih tinggi 0,88%. Sebagian kalangan menilai, koreksi yang terjadi di pasar obligasi memang sudah seharusnya terjadi karena secara teknikal obligasi Indonesia sudah jenuh beli dan cenderung overvalue. Alhasil, ICBI yang masih tumbuh 0,88% ytd masih bisa dinilai positif.

Selain itu, patut dicatat pula bahwa tingginya aktivitas pasar obligasi pada Januari lalu cukup banyak ditopang oleh aksi beli investor domestik. Bahkan, setelah asing melakukan aksi jual sejak akhir Januari, investor domesik justru masih cukup percaya diri untuk membeli sehingga menjaga pasar tidak terlalu jatuh.

Berdasarkan data DJPPR Kementerian Keuangan, aksi jual bersih harian investor asing terjadi sejak Rabu (24/1/2018). Hingga Kamis (8/2/2018), kepemilikan investor asing sudah berkurang Rp18 menjadi Rp862,26 triliun dari posisi tertingginya pada Selasa (23/1/2018) Rp880,2 triliun.

Di saat yang sama, kepemilikan investor perbankan meningkat Rp11,6 triliun, investor asuransi bertambah Rp3,6 triliun, dan dana pensiun Rp3,72 triliun. Peningkatan tersebut signifikan sebab sepanjang periode tersebut, total utang pemerintah turun sebesar Rp35,03 triliun karena adanya surat utang jatuh tempo.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top