Bahana Sekuritas: Pasar Mencari Keseimbangan

Pasar saham Indonesia akan mencari keseimbangan di tengah optimisme perbaikan situasi ekonomi dan faktor lainnya. Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Andri Ngaserin menilai tahun ini, pasar saham Tanah Air sangat optimistis untuk jangka menengah dan panjang karena adanya dukungan bonus demografi serta keyakinan reformasi struktural dilanjutkan pemerintah.
Annisa Margrit | 14 Januari 2018 13:32 WIB
Pengunjung melintas di gedung Bursa efek Indonesia Jakarta, Kamis (11/1). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar saham Indonesia akan mencari keseimbangan di tengah optimisme perbaikan situasi ekonomi dan faktor lainnya.

Tahun lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di posisi 6.355,65 yang sekaligus menjadi rekor terbaru. Hal ini sejalan dengan perkiraan PT Bahana Sekuritas yang memperkirakan indeks akan berada di kisaran 6.300.

Perbaikan makro ekonomi yang tercermin dari relatif stabilnya nilai tukar rupiah, diiringi penurunan suku bunga acuan serta fiskal yang terjaga menjadi faktor yang mendorong performa IHSG pada akhir 2017. Selain itu, pembangunan infrastruktur berlanjut dan harga komoditas stabil naik turut menjadi faktor positif.

Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Andri Ngaserin menilai tahun ini, pasar saham Tanah Air sangat optimistis untuk jangka menengah dan panjang karena adanya dukungan bonus demografi serta keyakinan reformasi struktural dilanjutkan pemerintah.

"Tahun ini, pasar akan mencari keseimbangan antara stabilitas makro ekonomi yang terjaga dengan beberapa faktor risiko yang membayangi, yakni tren kenaikan harga minyak dunia, perhelatan Pilkada serentak di dalam negeri, serta kebijakan investasi Pemerintah China," katanya dalam riset yang diterima Bisnis.comB, Minggu (14/1/2018).

Pemerintah China diketahui ingin mengurangi investasi langsungnya di luar negeri dalam waktu dekat, termasuk di ASEAN, yang bisa berakibat pada perlambatan ekonomi domestik. Pasalnya, investasi menjadi salah satu pendorong perekonomian Indonesia.

Selanjutnya, tren kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada di kisaran US$66 per barel. Angka ini lebih tinggi dari asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2018, yakni US$48 per barel. Sehingga, akan berpengaruh terhadap defisit transaksi berjalan jika ada kenaikan harga BBM bersubsidi tapi juga akan menimbulkan inflasi bila harga BBM bersubsidi naik.

Pilkada serentak serta Pilpres 2019 turut menjadi faktor penentu bagi investor. Jika prosesnya berjalan transparan dan hasil akhirnya sesuai dengan ekspektasi pasar, maka akan membawa dampak positif.

Di sisi lain, hal positif yang akan mewarnai pasar dan perekonomian sepanjang 2018 di antaranya berlanjutnya belanja infrastruktur dan dana subsidi untuk sosial. Dana kampanye, yang biasanya meningkat menjelang Pilkada dan Pilpres, pun akan mendorong konsumsi masyarakat.

Faktor-faktor positif itu ditambah dengan peningkatan harga komoditas global, khususnya batu bara, diyakini bakal memberi efek domino terhadap ekonomi nasional.

"Dengan melihat beberapa faktor positif dan risiko yang perlu dicermati, indeks diperkirakan tidak akan banyak bergerak pada semester pertama 2018. Namun, pada semester kedua baru akan terlihat pergerakan yang berarti tergantung pada proses dan hasil Pilkada serta langkah yang diambil pemerintah untuk menyelamatkan anggaran 2018," ungkap Andri.

Bahana, lanjutnya, memperkirakan indeks akan berada di kisaran 7.000 sepanjang 2018. Bahana juga merekomendasikan delapam saham unggulan, yakni:
1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dengan target harga Rp8.500 per lembar
2. PT United Tractors Tbk. (UNTR), dengan target harga Rp39.700 per lembar
3. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR), dengan target harga Rp11.600 per lembar
4. PT Adaro Energy Tbk. (ADRO), dengan target harga Rp2.174 per lembar
5. PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dengan target harga Rp3.500 per lembar
6. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), dengan target harga Rp10.600 per lembar
7. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dengan target harga Rp10.000 per lembar
8. PT Bank CIMB Niaga Tbk. (CIMB), dengan target harga Rp1.700 per lembar

Tag : IHSG
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top