OJK Dukung Penerbitan Market Standard Transaksi Repo atas Efek Bersifat Utang

Didorong iklim investasi yang semakin kondusif dan peningkatan rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat seperti Standard and Poor's dan Fitch Rating berdampak pada kepercayaan investor asing untuk masuk ke pasar surat utang yang pada akhirnya akan mendorong penurunan yield.
Emanuel B. Caesario | 12 Januari 2018 10:30 WIB
Wapres JK (kedua kanan) didampingi DIrut PT BEI Tito Uslistio, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Ketua Dewan OJK Wimboh Santoso, dan Gubernur BI Agus Martowardoyo tekan layar sebagai tanda pembukaan perdagang BEI Selasa (02/01) - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan mendukung penerbitan Market Standard untuk Transaksi Repo atas Efek Bersifat Utang yang dilakukan Perhimpunan Pedagang Surat Utang (Himdasun).

Market standard ini berguna memberikan acuan dan pedoman dalam bertransaksi repo, memperdalam pasar keuangan, serta meningkatkan profesionalisme pelaku pasar.

Peresmian Market Standard untuk Transaksi Repo atas Efek Bersifat Utang dilakukan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Main Hall Galeri Bursa Efek Indonesia, Jumat (12/1/2018).

Market standard yang dimaksud merupakan pedoman lebih lanjut yang dibuat dan disepakati oleh anggota Himdasun atas ketentuan POJK 09/POJK.04/2015 yang mensyaratkan penggunaan dokumen GMRA dalam pelaksanaan transaksi repo/reverse repo yang dilakukan oleh LJK.

Hoesen mengatakan pasar repo yang "dalam" dan "likuid" akan membantu pengembangan pasar modal yang akhirnya akan memberikan manfaat bagi sektor riil.

"Mengintegrasikan lasar obligasi dengan pasar repo di Indonesia akan mendorong pengembangan alternatif sumber pembiayaan dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman bank," katanya dalam keterangan pers, Jumat (12/1/2018).

Selain itu, pasar repo yang berkembang akan menjadikan pasar obligasi lebih aktif dan likuid, mendukung pengembangan produk derivatif efek bersifat utang sebagai sarana hedging, serta dapat menyediakan alternatif investasi bagi investor.

Hoesen mengatakan, market standard ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang sama antarpelaku pasar atas transaksi repo sehingga dapat meningkatkan profesionalisme, integritas dan kepercayaan antar pelaku pasar, serta mengurangi resiko sistemik di sektor jasa keuangan.

"Semoga peluncuran Market Standard Transaksi Repo Atas Efek Bersifat Utang akan diikuti dengan penerbitan Market Standard Transaksi Repo Atas Efek Bersifat Ekuitas," katanya.

Perkembangan pasar modal khususnya di sektor pasar surat utang sepanjang tahun 2017 menunjukkan tren peningkatan yang sangat positif. Hal ini terlihat dari kenaikan Indonesia Composite Bond Index (CBI) sebesar 34,53 basis poin (bps) selama periode 2017 dari 208.45 (Des 2016) ke 242,98 (Des 2017).

Didorong iklim investasi yang semakin kondusif dan peningkatan rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat seperti Standard and Poor's dan Fitch Rating berdampak pada kepercayaan investor asing untuk masuk ke pasar surat utang yang pada akhirnya akan mendorong penurunan yield.

Rata-rata yield obligasi pemerintah telah turun sebesar 140,97 bps menjadi 6,69 (2017). Begitu pula, rata-rata yield obligasi korporasi rating A juga turun 165,15 bps menjadi 9,07% (2017). Peningkatan pasar obligasi juga tercermin dari kinerjakenaikan rata-rata harian nilai transaksi obligasi sebesar 5,89% dari Rp 15,77 triliun (2016) menjadi Rp16,7o triliun (2017).

Likuiditas transaksi yang meningkat ini turut menopang peningkatan aktivitas transaksi repo. Tercatat total transaksi repo selama 2017 naik sebesar Rp42,04 triliun dari Rp263,17 triliun (2016) menjadi Rp305,21 triliun (2017). Rata-rata harian nilai transaksi repo juga mengalami kenaikan dari Rp1,10 triliun menjadi Rp1,28 triliun.

Tag : ojk
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top