Langkah BOJ Dorong Rebound Yen, Dolar AS Terkoreksi

Indeks dolar AS terpantau bergerak di zona merah pada perdagangan pagi ini, Selasa (9/1/2018), seiring dengan rebound mata uang yen Jepang setelah Bank of Japan (BOJ) mengurangi pembelian obligasi pemerintah Jepang dalam operasi pasar.
Renat Sofie Andriani | 09 Januari 2018 11:20 WIB
Uang dolar AS. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar AS terpantau bergerak di zona merah pada perdagangan pagi ini, Selasa (9/1/2018), seiring dengan rebound mata uang yen Jepang setelah Bank of Japan (BOJ) mengurangi pembelian obligasi pemerintah Jepang dalam operasi pasar.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama melandai 0,10% atau 0,088 poin ke level 92,270 pada pukul 10.37 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka turun 0,06% atau 0,054 poin di level 92,304, setelah pada perdagangan Senin (8/1) berakhir menguat 0,44% atau 0,409 poin di posisi 92,358.

Pada saat yang sama, nilai tukar yen menguat 0,38% atau 0,43 poin ke 112,66 per dolar AS, setelah dibuka dengan depresiasi tipis 0,01 poin di level 113,10. Yen sebelumnya telah tertekan selama empat hari perdagangan berturut-turut terhadap dolar AS.

Dilansir Reuters, pengurangan pembelian obligasi pemerintah Jepang dalam operasi pasar memicu spekulasi tentang keluarnya bank sentral Jepang tersebut dari kebijakan stimulus moneternya yang masif di masa mendatang.

“Operasi BOJ menjadi pemicu bagi penguatan yen, meskipun saya menduga ada pula arus masuk Tahun Baru mengingat hari ini adalah hari dimulainya aktivitas bisnis bagi kebanyakan pelaku pasar,” tutur Shusuke Yamada, chief Japan FX/equity strategist di Bank of America Merrill Lynch.

“Saya kira masih terlalu dini bagi BOJ untuk menjelaskan sikapnya atas langkah keluar dari kebijakan yang berlaku saat ini,” tambahnya, seperti dikutip dari Reuters.

Pergerakan dolar AS juga masih terdampak keraguan seputar skenario penaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS The Federal Reserve.

Menurut Shinichiro Kadota, senior FX and rates strategist di Barclays, prospek pasar selanjutnya bergantung pada sejumlah faktor di negara adidaya tersebut seperti apakah The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali atau lebih, serta dampak reformasi pajak.

Meski sejumlah pejabat The Fed telah memperkirakan tiga kali penaikan suku bunga tahun ini, para pelaku pasar belum sepenuhnya yakin dengan mempertimbangkan laju inflasi walaupun kondisi pasar kerja sangat ketat.

Ketua Fed wailayah Atlanta Raphael Bostic pada Senin (8/1) menyatakan bahwa The Fed kemungkinan hanya perlu menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun 2018 mengingat tekanan harga yang lemah.

 

Posisi indeks dolar AS                                       

9/1/2018

(Pk. 10.37 WIB)

92,270

(-0,10%)

8/1/2018

92,358

(+0,44%)

5/1/2018

91,949

(+0,10%)

4/1/2018

91,853

(-0,34%)

3/1/2018

92,162

(+0,32%)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

Tag : dolar as
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top