RUPSLB Ditunda, BRPT Pastikan Rencana Rights Issue dan Akuisisi Berlanjut

PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) memundurkan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diagendakan untuk meminta restu rights issue dan akuisisi Star Energy Group Holdings Pte. Ltd.
Annisa Margrit | 29 Desember 2017 15:24 WIB
Barito Pacific

Bisnis.com, JAKARTA - PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) memundurkan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diagendakan untuk meminta restu rights issue dan akuisisi Star Energy Group Holdings Pte. Ltd.

Dalam pernyataan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (29/12/2017), manajemen BRPT menunda RUPSLB dari jadwal semula pada 22 Januari 2018 sampai dengan waktu yang belum ditentukan tapi dipastikan tidak melewati semester I/2018.

Wakil Presiden Direktur BRPT Rudy Suparman memastikan penjadwalan ulang RUPSLB tidak membatalkan rencana rights issue dan akuisisi Star Energy. RUPSLB itu digelar dengan agenda meminta persetujuan rencana penambahan modal melalui mekanisme penawaran umum terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan akuisisi 66,67% saham Star Energy Group Holdings Pte. Ltd.

"Pelaksanaan RUPSLB akan dilaksanakan pada tanggal yang akan ditentukan kemudian. Yang pasti, pada akhir semester I/2018, rencana rights issue dan akuisisi akan tetap berjalan sesuai rencana. Kami menjadwalkan ulang RUPSLB karena adanya interest tinggi dari investor institusi sejumlah negara," tegasnya.

Perseroan menyatakan penundaan dilakukan terkait dengan ketatnya jadwal penyusunan laporan keuangan pada akhir 2017 dan awal tahun depan. BRPT juga mengklaim adanya minat yang tinggi, terutama dari institusi asing, terhadap rencana aksi korporasi perseroan.

Rudy melanjutkan BRPT akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 5,6 miliar saham baru dengan target perolehan dana sebanyak-banyaknya US$1 miliar. Dana yang diterima bakal digunakan untuk mendukung rencana akuisisi itu dan menambah modal kerja.

"Pelaksanaan rights issue juga bertujuan agar saham BRPT dapat dimiliki investor institusi baru dan publik, sehingga dapat berdampak positif terhadap likuiditas saham BRPT," tambahnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, Star Energy merupakan pengelola sejumlah pembangkit listrik termasuk yang berbahan bakar energi terbarukan seperti panas bumi. Pada April 2017, perusahaan ini memimpin konsorsium yang mengambil alih Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak dan PLTP Darajat dari Chevron.

Tag : Aksi Korporasi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top