Harga Batu Bara Stagnan Pasca Libur Natal

Pergerakan harga batu bara berakhir stagnan pada perdagangan Selasa (26/12/2017), perdagangan hari pertama pasca liburan Natal.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 Desember 2017  |  07:59 WIB
Harga Batu Bara Stagnan Pasca Libur Natal
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan harga batu bara berakhir stagnan pada perdagangan Selasa (26/12/2017), perdagangan hari pertama pasca liburan Natal.

Pada perdagangan Selasa, harga batu bara untuk kontrak Januari 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup stagnan di US$94,90/metrik ton.

Adapun pada sesi perdagangan sebelum liburan Natal, Jumat (22/12), harga batu bara kontrak Januari 2018 berakhir turun tipis 0,05% atau 0,05 poin.

Berbanding terbalik dengan batu hitam, harga minyak mentah Amerika Serikat mendekati level US$60 per barel menyusul sebuah ledakan pada jaringan pipa di Libya dan perkiraan bullish di Arab Saudi.

Pada perdagangan Selasa, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari 2018 ditutup menguat 1,50 poin di level US$59,97 per barel, level tertinggi sejak Juni 2015.

Adapun minyak Brent untuk pengiriman Februari berakhir melonjak 2,71% atau 1,77 poin di level U$67,02 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, level tertinggi sejak Mei 2015.

Sebuah pipa yang dioperasikan oleh Waha Oil yang membawa minyak mentah ke terminal ekspor terbesar Libya meledak pada hari Selasa, menjatuhkan output negara tersebut sebesar 70.000-100.000 barel per hari. Sementara itu, Arab Saudi dikatakan mengharapkan pendapatan minyak naik 80% pada 2023.

"Ledakan ini hanya pengingat akan premi risiko geopolitik yang akan menghantui pasar ini sepanjang tahun depan," kata John Kilduff, partner di Again Capital LLC, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (27/12/2017).

Output Waha Oil turun 60.000-70.000 barel per hari dari 260.000 barel sehari, menurut sumber yang mengetahui situasi ini.

Ledakan tersebut "adalah hal yang besar yang bisa mendorong harga lebih tinggi di tengah pengetatan pasokan,” kata Bob Yawger, direktur futures Mizuho Securities USA Inc.

Pada saat yang sama, Arab Saudi memperkirakan surplus anggaran pertamanya dalam satu dekade terakhir. Di bawah program enam tahun untuk menyeimbangkan anggaran, pejabat Saudi memperkirakan kenaikan harga dan output akan mendorong pendapatan dari penjualan minyak menjadi 801,4 miliar riyal (US$214 miliar) dari 440 miliar riyal tahun ini, menurut sumber yang dikutip Bloomberg.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2018 di bursa Rotterdam

Tanggal                                    

US$/MT

26 Desember

94,90

(0%)

22 Desember

94,90

(-0,05%)

21 Desember

94,95

(-0,21%)

20 Desember

95,15

(+0,26%)

19 Desember

94,90

(-0,94%)

 

 

 

Sumber: Bloomberg

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top