Kurs di Asia Mixed, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah ditutup terdepresiasi 0,05% atau 7 poin di Rp13.561 per dolar AS setelah pagi tadi rupiah dibuka dengan penguatan 0,02% atau 3 poin di posisi 13.551.
Aprianto Cahyo Nugroho | 27 Desember 2017 17:01 WIB
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah berakhir melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (27/12/2017).

Rupiah ditutup terdepresiasi 0,05% atau 7 poin di Rp13.561 per dolar AS setelah pagi tadi rupiah dibuka dengan penguatan 0,02% atau 3 poin di posisi 13.551.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di zona merah pada kisaran Rp13.542 – Rp13.564 per dolar AS.

Sementara itu, pergerakan mata uang lainnya di Asia terpantau bervariasi, dengan  penguatan dipimpin dolar SIngapuira yang terapresiasi 0,19%, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,17%.

Di sisi lain, baht Thailand dan renminbi China yang masing-masing terdepresiasi 0,20% dan 0,19% berada di antara mata uang yang mengalami pelemahan, seperti dikutip dari data Bloomberg.

Adapun indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,16% atau 0,15 poin ke level 93,107 pada pukul 16.45 WIB.

Dilansir Reuters, sebelumnya indeks dolar AS menguat setelah ada dorongan yang ditopang lonjakan harga minyak mentah menyusul sebuah ledakan pada jaringan pipa di Libya.

Pada perdagangan Selasa (26/12), harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari 2018 ditutup menguat 1,50 poin di level US$59,97 per barel, level tertinggi sejak Juni 2015.

Adapun minyak Brent untuk pengiriman Februari berakhir melonjak 2,71% atau 1,77 poin di level U$67,02 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, level tertinggi sejak Mei 2015.

Sebuah pipa yang dioperasikan oleh Waha Oil yang membawa minyak mentah ke terminal ekspor terbesar Libya meledak pada hari Selasa, menjatuhkan output negara tersebut sebesar 70.000-100.000 barel per hari.

Namun, harga minyak kembali berbalik melemah, dengan WTI turun 0,70% sedangkan minyak Brent melemah 1,10%.

Selain itu, Christin Tuxen, analis mata uang di Danske Bank mengatakan hanya ada sedikit sentimen yang menggerakkan dolar AS pada perdagangan hari ini, setelah engesahan reformasi pajak pemerintah AS minggu lalu tidak membantu dolar.

"Bagi kebanyakan orang, ini (pengesahan UU pajak AS) bukan menjadi sesuatu yang mendukung dolar," ungkapnya, seperti dikutip Reuters.

Tuxen menambahkan bahwa perdagangan dolar AS pada Desember telah didorong oleh volatilitas nilai tukar euro - dolar, yang melebar secara signifikan awal bulan in karena permintaan dolar melonjak.

Tag : nilai tukar rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top