Minyak Menguat, Harga Batu Bara Rebound

Harga batu bara berhasil membukukan rebound pada akhir perdagangan Rabu (20/12/2017), seiring dengan penguatan harga minyak mentah.
Renat Sofie Andriani | 21 Desember 2017 07:49 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara berhasil membukukan rebound pada akhir perdagangan Rabu (20/12/2017), seiring dengan penguatan harga minyak mentah.

Pada perdagangan Rabu, harga batu bara untuk kontrak Februari 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup menguat 0,32% atau 0,30 poin di US$93,60/metrik ton.

Adapun pada sesi perdagangan sebelumnya, Selasa (19/12), harga batu bara kontrak Februari 2018 berakhir melemah 0,96% atau 0,90 poin di level 93,30.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada akhir perdagangan Rabu, menyusul rilis laporan pemerintah yang menunjukkan penurunan stok minyak AS dengan jumlah terbesar dalam empat bulan.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari berakhir naik 53 sen di US$58,09 per barel di New York Mercantile Exchange. Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Februari ditutup naik 76 sen di US$64,56 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Badan informasi energi AS, Energy Information Administration (EIA), melaporkan jumlah persediaan minyak mentah negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut turun menjadi 436,5 juta barel pekan lalu, level terendah sejak Oktober 2015, sedangkan ekspor minyak mentah melonjak 772.000 barel per hari.

“Data itu mengonfirmasikan bahwa persediaan menurun dengan tingkat yang sangat tinggi. Perekonomian global berjalan baik dan Anda melihat permintaan yang kuat,” ujar Adam Wise, analis di John Hancock Financial Services Inc., seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (21/12/2017).

Persediaan minyak mentah AS turun sebesar 6,5 juta barel pekan lalu, lebih dari dua kali lipat dari perkiraan rata-rata dalam survei Bloomberg. Ekspor mencatatkan peningkatan terbesar saat pelaku domestik mengirimkan kargo ke tempat-tempat asing dimana mereka mengambil harga lebih tinggi.

“Persediaan minyak mentah mengalami penurunan tajam. Perbedaan harga yang membuat minyak Amerika lebih menarik terhadap pembeli luar negeri mendukung ekspor cukup kuat,” jelas Matt Sallee dari Tortoise Capital Advisors LLC.

Meski demikian, jumlah stok bensin naik untuk pekan keenam dan pasokan diesel secara tak terduga beringsut lebih tinggi.

Laporan EIA juga menunjukkan jumah stok bensin naik 1,24 juta barel, dan persediaan minyak sulingan meningkat 769.000 barel, lebih dari tiga kali dari yang diperkirakan dalam survei Bloomberg. Sementara itu, produksi minyak mentah tetap berada di rekor tertinggi.

Minyak berada di jalur untuk kenaikan tahunan setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sejumlah negara non OPEC memutuskan untuk memperpanjang upaya pemangkasan pasokan sampai akhir 2018.

Menurut Goldman Sachs Group Inc., stok global akan tetap di bawah tingkat musiman dan terus menyusut sampai kuartal kedua tahun depan.

Seperti diketahui, harga batu bara bisa mengikuti gerak minyak mengingat dampaknya pada biaya produksi dan pengangkutan serta pengaruh terhadap sentimen secara keseluruhan dalam pasar energi.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Februari 2018 di bursa Rotterdam

Tanggal                                    

US$/MT

20 Desember

93,60

(+0,32%)

19 Desember

93,30

(-0,96%)

18 Desember

94,20

(+0,27%)

15 Desember

93,95

(+0,21%)

14 Desember

93,75

(+0,59%)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top