DPR AS Setujui RUU Reformasi Pajak, Wall Street Loyo

Pergerakan tiga indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street berakhir turun pada perdagangan Selasa (19/12), saat antusiasme mengenai prospek perombakan pajak di negara tersebut diimbangi oleh kekhawatiran atas efeknya terhadap stimulus kebijakan moneter dan masa depan suku bunga
Renat Sofie Andriani | 20 Desember 2017 05:05 WIB
Bursa saham AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan tiga indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street berakhir turun pada perdagangan Selasa (19/12), saat antusiasme mengenai prospek perombakan pajak di negara tersebut diimbangi oleh kekhawatiran atas efeknya terhadap stimulus kebijakan moneter dan masa depan suku bunga.

Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 0,15% atau 37,45 poin di level 24.754,75, indeks S&P 500 melemah 0,32% atau 8,69 poin di 2.681,47, dan indeks Nasdaq Composite ditutup melemah 0,44% atau 30,91 poin di level 6.963,85.

Pengambilan suara yang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS menghasilkan persetujuan atas rancangan undang-undang perpajakan yang diusung Partai Republik.

Pengambilan suara selanjutnya akan dilangsungkan Senat AS. Partai Republik pun yakin bahwa rancangan undang-undang tersebut dapat diteken menjadi undang-undang pada akhir pekan ini.

Meski demikian, pergerakan saham melemah pasca pemungutan suara, setelah pekan kenaikan yang didorong optimisme bahwa reformasi pajak akan mendorong laba korporasi dan ekonomi AS. Beberapa investor mengatakan bahwa sebagian besar keuntungan telah tercermin pada harga saham.

“Para pelaku pasar telah memperkirakan pemangkasan pajak. Hari ini, pasar sedikit tidak aktif, mungkin karena RUU tersebut tidak sepopuler yang diharapkan ada dalam opini publik,” kata Brian Peery, manajer portofolio di Hennessy Funds, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (20/12/2017).

RUU tersebut, antara lain, mengusulkan penurunan tarif pajak perusahaan menjadi 21% dari 35%, dimana investor memperkirakan akan mendongkrak laba perusahaan sekaligus memicu pembelian kembali saham dan pembayaran dividen yang lebih tinggi.

“Kami telah memperkirakan tarif pajak (dalam saham). Investor mungkin menyambut paket pajak tersebut tapi juga mengakui bahwa apa yang bank sentral telah berikan pada tahun-tahun sebelumnya dapat mulai ditarik,” kata Jack Ablin, kepala investasi di BMO Private Bank, seperti dikutip Reuters, Rabu (20/12/2017).

Sektor teknologi S&P 500 turun 0,5%, dengan saham teknologi menjadi penekan utama terhadap indek-indeks utama.

Sebelumnya pergerakan bursa saham terdorong turun karena imbal hasil obligasi AS naik akibat data perumahan yang kuat. Konstruksi rumah dalam negeri mencapai level tertinggi 13 bulan pada bulan November.

Di sisi lain, saham Apple turun 1,1% setelah Instinet menurunkan saham Apple menjadi 'netral', dengan mengatakan bahwa keseimbangan permintaan penawaran untuk iPhone X menunjukkan sedikit ruang untuk meningkatkan perkiraan penjualan untuk kuartal berikutnya.

Tag : wall street
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top