Bahana Sekuritas: JPFA & CPIN Lebih Stabil Dengan Aturan Penjualan Ayam Ras

PT Bahana Sekuritas menilai fundamental bisnis emiten sektor peternakan unggas yakni PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk., (CPIN) dan PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk., (JPFA) akan lebih stabil setelah pemerintah mengatur penjualan ayam ras.
Fajar Sidik | 29 November 2017 17:32 WIB
Seorang pria melintas di sekitar papan elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (23/10). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bahana Sekuritas menilai fundamental bisnis emiten sektor peternakan unggas yakni PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk., (CPIN) dan PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk., (JPFA) akan lebih stabil setelah pemerintah mengatur penjualan ayam ras.

Langkah pemerintah yang ingin menjaga kestabilan harga bahan-bahan pokok kebutuhan rakyat terus ditingkatkan. Pada awal bulan ini, pemerintah kembali mengumumkan Peraturan Menteri Pertanian tentang penyediaan, peredaran dan pengawasan ayam ras dan telur konsumsi.

Melalui aturan baru ini pemerintah ingin memastikan ketersediaan ayam dan telur aman dengan harga yang semakin murah di pasaran, tanpa mengganggu kinerja perusahaan besar yang bergerak di industri ayam dan telur seperti PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT Japfa Comfeed Indonesia.

Analis Bahana Sekuritas, Michael Setjoadi menilai melalui aturan baru tersebut pemerintah serius ingin terus menjaga inflasi rendah, namun di sisi lain para peternak ayam dan perusahaan besar yang bergerak di industri pakan ternak dan pengolahan ayam tidak terganggu, bahkan melalui aturan baru tersebut, kinerja kedua perusahaan besar seperti Japfa dan Charoen lebih stabil

''Japfa dan Charoen sebenarnya sudah mengikuti aturan baru tersebut, jadi kedepan kinerja mereka akan lebih stabil, sebab pemerintah sudah membatasi minimal 50% stok day old chick atau DOC harus dijual kepada peternak independent, jadi kedua perusahaan ini tidak bisa lagi menjual stok DOC-nya lebih banyak kepada peternak yang selama ini sudah kerjasama dengan mereka,'' papar Michael dalam siaran pers, Rabu (28/11).

Melalui aturan baru ini, dampak dari volatilitas harga Ayam dan telur tidak akan sangat signifikan mempengaruhi kinerja perseroan. Pasalnya, yang terjadi di lapangan selama ini, saat harga ayam jatuh di pasaran, para peternak akan menjual semua ayamnya kepada perseroan karena sudah ada kesepakatan harga beli kembali oleh perseroan sejak awal sehingga peternak tetap bisa menjual ayamnya dengan harga yang lebih baik dari harga yang ada di pasar saat itu.

Namun saat harga ayam di pasar naik, biasanya peternak akan mengklaim bahwa hasil ternak mereka tidak maksimal,sehingga yang dijual kepada perseroan mungkin hanya sebagian, sisanya langsung di jual ke pasar karena tentunya harganya lebih mahal di pasar. Nah dengan aturan baru ini karena sudah ada batasan minimal 50% stok DOC harus dijual kepada peternak independen, maka kinerja perseroan lebih bisa diprediksi saat fluktuasi harga ayam terjadi.

Pemerintah juga kembali membuka impor ayam meski sebenarnya produksi ayam di dalam negeri sudah over suplai sekitar 5% - 10%. Menurut Michael dibukanya keran import ini demi menjaga ketersediaan ayam di dalam negeri. Namun hal ini tidak akan mempengaruhi kinerja Japfa dan Charoen karena orang Indonesia lebih menyukai konsumsi ayam segar daripada ayam beku, juga, ayam impor belum mendapat sertifikasi halal.

SAHAM JPFA

Rekomendasi Bahana atas perusahaan berkode JAPFA ini lebih positif karena fundamentalnya lebih baik dengan kemampuan bayar hutang yang stabil karena tingkat bunga yang lebih rendah dan valuasi harga juga murah, perusahaan sekuritas pelat merah ini merekomendasikan beli dengan target harga Rp 1,650 per lembar saham.

Pendapatan Japfa pada akhir tahun ini diperkirakan naik sekitar 9% secara tahunan menjadi Rp 29,54 triliun, namun laba bersih diperkirakan turun sekitar 44% menjadi Rp 1,15 triliun dari pencapaian akhir 2016 yang tercatat sebesar Rp 2,06 triliun, karena harga pakan ternak yang masih mahal. Namun tahun depan, pendapatan diperkirakan naik sekitar 7% menjadi Rp 31,59 triliun, dengan proyeksi laba bersih diperkirakan melonjak sekitar 36% menjadi Rp 1,57 triliun.

SAHAM CPIN

Dengan aturan baru ini Bahana memperkirakan pendapatan perusahaan berkode saham CPIN ini akan naik sekitar 25% atau mencapai Rp 47,89 triliun pada akhir 2017 dibandingkan akhir tahun lalu. Tahun depan diperkirakan tumbuh sekitar 8% menjadi sekitar Rp 51,61 triliun.

Sehingga laba bersih pada akhir 2017 diperkirakan tumbuh sekitar 14% secara tahunan menjadi Rp 2,53 triliun dan tahun depan diperkirakan tumbuh cukup signifikan sekitar 35% menjadi sekitar Rp 3,42 triliun.

Dengan perkiraan kinerja ini serta mempertimbangkan harga saham CPIN yang bergerak saat ini telah mendekati perkiraan target harga yang ditetapkan Bahana Sekuritas, anak usaha BPUI ini merekomendasikan tahan untuk saham CPIN dengan target harga Rp 3.200 per lembar saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top