IHSG Sukses Cetak Rekor Baru Saat Bursa Asia Turun

Indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil membukukan rebound sekaligus rekor baru pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (28/11/2017).
Renat Sofie Andriani | 28 November 2017 16:54 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/11). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil membukukan rebound sekaligus rekor baru pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (28/11/2017).

IHSG berakhir di zona hijau dengan kenaikan 0,10% atau 6,13 poin di level 6.070,72, level penutupan tertinggi sepanjang masa, setelah dibuka melemah 0,16% atau 9,49 poin di level 6.055,10.

Adapun pada perdagangan Senin (27/11), IHSG ditutup terkoreksi 0,04% atau 2,55 poin di level 6.064,59.

Melanjutkan pelemahannya di awal perdagangan hari ini, IHSG terus merosot bahkan sempat menyentuh level terendahnya hari ini di level 6.015,91. Namun pelemahan IHSG terpantau terkikis menjelang penutupan perdagangan hingga berhasil berbalik ke zona hijau dan mencatatkan rekor barunya.

Baca juga: Kospi Rebound

Rekor baru IHSG pada perdagangan hari ini dibukukan hanya berselang kurang dari sepekan setelah mencetak level penutupan tertinggi di level 6.069,78 pada akhir perdagangan Rabu (22/11). Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di kisaran 6.015,91 – 6.070,72.

Dari 563 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 130 saham menguat, 236 saham melemah, dan 197 saham stagnan.

Dua dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona hijau, dengan sektor konsumer dan finansial yang masing-masing menguat 1,42% dan 0,69%. Adapun tujuh sektor lainnya berakhir si zona merah, dipimpin sektor aneka industri yang merosot 1,36%.

Sementara itu, pergerakan indeks Bisnis-27 juga mampu ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,61% atau 3,33 poin di 548,12, kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut.

Bursa saham lainnya di Asia Tenggara bergerak variatif dengan indeks SE Thailand (+0,44%), indeks FTSE Straits Time Singapura (+0,13%), indeks PSEi Filipina (-0,83%), dan indeks FTSE Malay KLCI (-0,32%).

Di kawasan Asia lainnya, pergerakan indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang berakhir di zona merah pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, terbebani sentimen negatif seputar Korea Utara.

Indeks Kospi Korea Selatan berhasil membukukan rebound, sejalan dengan rebound saham Samsung Electronics Co. Ltd. Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China ikut membukukan rebound pada akhir perdagangan hari ini, didorong penguatan pada perusahaan konsumen dan bahan baku.

Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong berakhir di zona merah pada perdagangan hari kedua berturut-turut, di tengah kekhawatiran bahwa pihak regulator China akan membatasi arus dana dari daratan utama masuk ke pasar saham kota tersebut.

Secara keseluruhan, bursa Asia turun untuk hari kedua berturut-turut di tengah sikap hati-hati investor menyusul laporan bahwa Korea Utara sedang mempersiapkan peluncuran rudalnya. Indeks MSCI Asia Pacific pun turun 0,1% ke posisi 172,13 pada pukul 4.45 sore waktu Hong Kong.

“Perkembangan baru terkait Korea Utara mempengaruhi sentimen investor ke sisi negatif. Investor menggunakan hal ini sebagai alasan untuk mengambil untung setelah kinerja ekuitas berjalan cukup baik tahun ini,” kata John Teja, seorang Direktur di PT Ciptadana Sekuritas Asia, seperti dikutip dari Bloomberg.

Meski turun, bursa Asia masih diperdagangkan di kisaran level tertinginya sepanjang masa. Indeks saham acuan kawasan regional tersebut telah naik 27% sepanjang tahun ini, mengungguli bursa saham di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, serta bersiap untuk kenaikan bulanan berturut-turut ke-11 yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

HMSP

+3,79

BBRI

+2,42

BBNI

+3,07

UNVR

+1,19

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

ASII

-1,76

TLKM

-1,40

EMTK

-6,35

GEMS

-13,19

 Sumber: Bloomberg

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top