Tawarkan Rp1 Triliun, Moratelindo Tetapkan Kupon Obligasi 9,90%-10,50%

PT Mora Telekomunikasi Indonesia atau Moratelindo menetapkan kupon masing-masing 9,90% dan 10,50% per tahun untuk Seri A dan Seri B penerbitan Obligasi I Moratelindo Tahun 2017 senilai total Rp1 triliun.
Emanuel B. Caesario | 28 November 2017 19:45 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA—PT Mora Telekomunikasi Indonesia atau Moratelindo menetapkan kupon masing-masing 9,90% dan 10,50% per tahun untuk Seri A dan Seri B penerbitan Obligasi I Moratelindo Tahun 2017 senilai total Rp1 triliun.

Berdasarkan keterbukaan informasi di laman resmi Kustodian Sentral Efek Indonesia, kedua seri tersebut memiliki tenor masing-masing Seri A 3 tahun atau jatuh tempo pada 6 Desember 2020 dan Seri B 5 tahun atau jatuh tempo pada 6 Desember 2022.

Moratelindo akan menerbitkan Seri A dengan nilai pokok Rp540 miliar, sementara Seri B Rp460 miliar. Setelah memperoleh pernyataan efektif dari OJK pada 27 November 2017, Moratelindo akan melakukan penawaran umum surat utang tersebut pada 29-30 November 2019.

Ini merupakan penerbitan surat utang di Bursa Efek Indonesia untuk pertama kalinya oleh Moratelindo. Targetnya, obligasi ini sudah bisa dicatatkan di BEI pada 7 Desember 2017. Selanjutnya, perseroan akan membayar kupon tiap tiga bulan, pertama kali pada 6 Maret 2018.

PT Bahana Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi yang memperoleh peringkat idA dari Pefindo ini.

Galumbang Menak, Direktur Utama Moratelindo, mengatakan bahwa track record perseroan yang positif, proyeksi arus kas yang kuat dan pengalaman di industri telekomunikasi membuat peringkat obligasi perseroan tinggi.

"Kami optimis karena ini sektor yang banyak dicari orang dan tidak akan terkena dampak krisis," ujarnya awal bulan ini.

Galumbang memaparkan dana yang diperoleh dari hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan 90% di antaranya untuk kebutuhan investasi.

Investasi tersebut akan dibagi menjadi dua, 85% akan digunakan untuk investasi backbone, sementara 5% sisa-nya digunakan untuk pembangunan fiber-to-the-X (FTTx) yang menyasar segmen small office home office. Sementara itu, 10% lainnya akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja.

Obligasi yang ditawarkan tidak memiliki jaminan khusus, tetapi dijamin dengan jaminan umum, berupa seluruh harta kekayaan perseroan.

Dari sisi kinerja perusahaan, berdasarkan prospektus, perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi ini membukukan pendapatan sebesar Rp515 miliar hingga Mei 2017. Total aset perusahaan tercatat sebesar Rp2,57 triliun.

Pendapatan perseroan yang berasal dari segmen telko pada periode 5 bulan yang berakhir tanggal 31 Mei 2017 meningkat sebesar Rp7,6 miliar atau 6,02% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan yang berasal dari segmen wholesale pada periode 5 (lima) bulan yang berakhir tanggal 31 Mei 2017 meningkat sebesar Rp59,7 miliar atau 78,34% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini dinilai karena adanya perluasan area segmen pasar retail yang dilakukan oleh perseroan untuk layanan produk internet kepada pelanggan retail.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top