Masa Perpanjangan Pemangkasan Produksi Minyak Simpang Siur

Masa perpanjangan pemangkasan produksi minyak mentah dunia masih terkesan simpang siur menjelang pertemuan OPEC pada tiga hari mendatang.
Eva Rianti | 27 November 2017 10:07 WIB
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA– Masa perpanjangan pemangkasan produksi minyak mentah dunia masih terkesan simpang siur menjelang pertemuan OPEC pada tiga hari mendatang.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak pada Jumat (24/11/2017) mengatakan bahwa Rusia siap untuk mendukung perluasan kesepakatan diantara produsen minyak dalam upaya mengurangi produksi global, namun belum diketahui berapa lama waktu perpanjangannya.

“Rusia mendukung proposal perpanjangan pemangkasan produksi ini. Namun pilihan masa perpanjangannya dalam pertimbangan. Kita akan membahas rincian pada pertemuan 30 November mendatang,” kata Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

Lama masa perpanjangan terlihat belum ada kesepakatan yang jelas. Di satu sisi, Arab Saudi mendorong perpanjangan sembilan bulan atau hingga akhir 2018, sesuai saran dari Presiden Rusia Vladimir Putin pada Oktober lalu yang menunujukkan dukungan dari Rusia.

Di satu sisi, kantor berita TASS Rusia melaporkan bahwa produsen minyak dan Kementerian Energi Rusia telah membahas perpanjangan enam bulan saja lantaran khawatir jika kenaikan harga terlalu tajam.  

Menteri Ekonomi Maxim Oreshkin pada Kamis (23/11/2017) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Rusia telah dilukai oleh kesepakatan tersebut lantaran mengurangi investasi.

Adapun jika OPEC dan Rusia setuju, negara-negara tersebut akan meninjau kembali kesepakatan mereka pada pertengahan 2018. OPEC menyelenggarakan seminar internasionalnya di Wina pada 20—21 Juni mendatang.

Terpantau, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada Senin (27/11/2017) pukul 09.08 WIB turun 0,24 poin atau 0,41% menjadi US$58,71 per barel di New York Merchantile Exchange. Sementara harga minyak Brent melemah 0,13 poin atau 0,20% menuju US$63,73 per barel di ICE Futures yang berbasis di London.

Kendati melemah pagi ini, harga minyak tercatat mengalami penguatan yang cukup tajam dari level terendah US$27 per barel pada 2016 hingga kembali mencapai level US$60 per barel lantaran kesepakatan OPEC dan sekutunya termasuk Rusia melakukan pemangkasan produksi sejak Januari lalu.

 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top