Prospek Rencana Pajak AS Ikut Dorong Penguatan Bursa Asia

Pergerakan bursa Asia menguat pada awal perdagangan hari ini, Jumat (17/11/2017), seiring dengan pulihnya minat investor terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya prospek rencana pemangkasan pajak perusahaan di Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 17 November 2017 08:32 WIB
BUrsa Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan bursa Asia menguat pada awal perdagangan hari ini, Jumat (17/11/2017), seiring dengan pulihnya minat investor terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya prospek rencana pemangkasan pajak perusahaan di Amerika Serikat (AS).

Indeks Topix Jepang menanjak 0,7% pada pukul 9.20 pagi waktu Tokyo (pukul 7.20 WIB), sedangkan indeks Nikkei 225 Stock Average menguat 1%. Adapun indeks S&P/ASX Australia naik 0,3% dan indeks Kospi Korsel naik 0,2%.

Bursa berjangka Hang Seng Hong Kong naik 0,6%, sedangkan indikator indeks S&P 500 dikabarkan berbalik arah setelah berakhir menguat sekitar 0,8% pada perdagangan Kamis (16/11), penguatan terbesar dalam dua bulan. Pada saat yang sama, indeks MSCI Asia Pacific naik 0,4%.

Dilansir Bloomberg, saat pemerintahan Washington terlihat selangkah lebih dekat dengan rencana reformasi pajaknya dan bank sentral China menyuntikkan dana paling banyak sejak bulan Januari ke dalam sistem keuangannya pekan ini, investor pun bertaruh akan pertumbuhan global dan proyeksi laba yang kuat.

Pengujian valuasi telah berkontribusi pada investor mengurangi sejumlah eksposur setelah saham global mencapai rekornya awal bulan ini.

Peluang bagi perusahaan-perusahaan di AS untuk memperoleh potongan pajak tampaknya meningkat setelah Senator dari Partai Republik Ron Johnson, yang sebelumnya menyatakan penentangan terhadap rencana pajak Senat, mengungkapkan optimisme bahwa kekhawatirannya akan dapat diatasi.

Pada Kamis (16/11) waktu setempat, DPR AS menyetujui paket pemangkasan pajak yang mempengaruhi perusahaan, individu dan keluarga. Rencana tersebut di antaranya mencakup penuruna tarif pajak perusahaan menjadi 20% dari 35%.

Hal ini membawa perkembangan satu langkah penting lebih maju bagi partai Republik maupun Presiden Donald Trump terhadap kebijakan perombakan pajak yang diusungnya.

Perdebatan tentang permasalahan ini kemudian bergeser ke Senat, di mana mayoritas Partai Republik jauh lebih ramping. Partai Republik tidak bisa kehilangan lebih dari dua suara Senat.

Di sisi lain, saham perusahaan minyak masih berada di bawah tekanan menyusul rencana daya kekayaan negara di Norwegia untuk menjual ekuitas bernilai sekitar US$40 miliar, termasuk Royal Dutch Shell Plc dan Exxon Mobil Corp. demi membantu mengurangi guncangan terhadap energi.

Tag : bursa asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top