Dibayangi Sentimen Eksternal, Minat Asing di Pasar SBN Mulai Terbatas Tahun Depan

Peningkatan kepemilikan investor asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) tahun depan diperkirkan tidak akan setinggi tahun ini seiring banyaknya sentimen eksternal yang berpeluang mendorong arus keluar modal investor asing.
Emanuel B. Caesario | 15 November 2017 21:18 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA—Peningkatan kepemilikan investor asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) tahun depan diperkirkan tidak akan setinggi tahun ini seiring banyaknya sentimen eksternal yang berpeluang mendorong arus keluar modal investor asing.

Maximilianus Nico Demus, kepala divisi riset Indomitra Sekuritas, mengatakan bahwa sepanjang tahun ini pasar obligasi Indonesia minim sentimen eksternal lantaran sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, dirinya belum banyak mengeluarkan kebijakan yang cukup signifikan dampaknya bagi pasar global.

Investor asing pun belum memiliki alasan yang kuat untuk meninggalkan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, catatan fundamental ekonomi Indonesia yang positif dan terkonfirmasi oleh penetapan peringkat layak investasi oleh Standard & Poor’s mendorong akumulasi pembelian asing di SBN.

Alhasil, sejak awal tahun hingga September tahun ini, asing telah menambah kepemilikannya pada SBN sebanyak Rp153,56 triliun. Porsi kepemilikan asing terhadap total outstanding SBN pun melonjak drastis dari 37,55% menjadi 40,03%.

Namun, saat ini Trump tampak mulai lebih serius terhadap janji-janji kampanyenya, terutama soal pemangkasan pajak di Amerika Serikat. Bila disetujui, bisnis korporasi Amerika Serikat akan lebih menggeliat dan menjadikan investasi di sana lebih menarik.

Optimisme terhadap potensi peningkatan suku bunga the Fed di akhir tahun ini dan tiga kali tahun depan pun semakin tinggi dengan proyeksi titik tertinggi fed fund rate mencapai 2,75%. Belum lagi, agenda pengurangan balance sheet The Fed juga menjadi katalis yang akan menaikkan yield US Treasury.

Dengan sentimen ini saja, investor asing sudah banyak menjual asetnya di SBN sepanjang Oktober lalu total senilai Rp23,17 triliun, meskipun kembali masuk di November hingga Rp15,52 triliun per Selasa (14/11/2017).  

Persentase kepemilikan asing sudah tergerus banyak menjadi tinggal 38,8% sebab selama periode itu pemerintah banyak menerbitkan SBN melalui lelang sementara partisipasi asing cukup rendah.

Nico menilai, tahun depan saat sentimen-sentimen tersebut terealisasi, besar peluang arus masuk investor asing ke Indonesia akan tertahan, atau justru malah keluar. Pasalnya, sentimen dari Amerika Serikat ini masih akan ditambah oleh sentimen eksternal dari sejumlah negara lain.

ECB sudah mengonfirmasi akan melakukan tapering off dan akan diikuti BoJ. China pun sempat mengungkapkan rencana membuka pasar finansialnya untuk dimiliki asing hingga di atas 49%. China juga akan lebih gencar membuka kepemilikan asing terhadap obligasinya.

Hal tersebut akan mendorong arus modal asing lebih banyak mengalir ke China. Sementara itu, di dalam negeri pasar Indonesia mau tidak mau akan terpengaruh oleh iklim politik yang panas jelang pemilihan umum presiden pada 2019.

“Apakah asing akan outflow? Tentu saja. Makanya pertanyaannya selalu apakah kita siap ketika dihadapi suku bunga acuan kita 4,25% melawan FRR 2,75%? Kan nggak siap. Ketika asing keluar otomatis rupiah banyak supply. Untuk menjaga nilai tukar mau tidak mau BI naikkan suku bunga, otomatis harga obligasi kita turun. Emiten akan sulit ekspansi,” katanya, Rabu (15/11/2017).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top