Kupon Obligasi KAI Ditetapkan 7,75% dan 8,25%

Tingkat kupon Obligasi I PT Kereta Api Indonesia (Persero) Tahun 2017 ditetapkan sebesar 7,75% untuk seri A tenor 5 tahun dan 8,25% untuk seri B tenor 7 tahun dengan nilai emisi masing-masing Rp1 triliun.
Emanuel B. Caesario | 15 November 2017 16:55 WIB
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Edi Sukmoro (tengah) bersama Direktur Budi Noviantoro (dari kiri), Didiek Hartantyo, Bambang Eko, Dody Budiawan, Apriyono Wedi, dan Azari mengangkat jempol, seusai Penawaran Umum Obligasi I Kereta Api Indonesia Tahun 2017, di Jakarta, Kamis (19/10). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Tingkat kupon Obligasi I PT Kereta Api Indonesia (Persero)  Tahun 2017 ditetapkan sebesar 7,75% untuk seri A tenor 5 tahun dan 8,25% untuk seri B tenor 7 tahun dengan nilai emisi masing-masing Rp1 triliun.

Informasi tersebut berdasarkan publikasi Kustodian Setral Efek Indoensia (KSEI) Selasa (14/11/2017). Masa penawaran umum obligasi tersebut tengah berlangsung dan dibuka selama tiga hari, 14-16 November 2017.

Selanjutnya, penjatahan akan dilakukan pada 17 November 2017 dan pencatatan di BEI pada 22 November 2017. Pembayaran kupon akan dilakukan tiap tiga bulan sekali dan pembayaran pertama dilakukan pada 21 Februari 2018.

Pada masa bookbuilding, obligasi yang mendapat peringkat idAAA dengan outlook stabil dari Pefindo ini ditawarkan dengan rentang kupon indikatif masing-masing untuk seri A antara 7,25%-8,00% dan untuk seri B antara 7,50%-8,35%.

Alhasil, dengan penetapan kupon seri A sebesar 7,75% dan seri B sebesar 8,25%, artinya penawaran kupon investor lebih banyak mendekati batas atas.

Sebelumnya, manajemen KAI mengungkapkan bahwa perseroan memutuskan untuk mulai menjajaki instrumen pasar modal dalam rangka mengefisienkan kinerja perusahaan. Perseroan tertarik untuk menerbitkan obligasi antara lain karena era imbal hasil rendah yang tengah berlangsung sepanjang tahun ini.

Didiek Hartantyo, Direktur Keuangan Kerata Api Indonesia, mengatakan bahwa perseroan juga tengah membutuhkan banyak tambahan modal, mengingat banyaknya proyek kereta api yang menjadi program pemerintah dan dikebut penyelesaiannya.

“Kita mengantisipasi banyak hal. Bayangkan capex LRT itu Rp27,5 triliun, sementara aset KAI Rp27,3 triliun. Kita harus hati-hati mengelola ini, kita harus jamin sumber dana bagus sehingga penugasan pemerintah bisa selesai dengan baik untuk masa depan negeri,” katanya usai due dilligen meeting penawaran obligasi KAI pertengahan Oktober lalu.

Dari target dana Rp2 triliun yang dikumpulkan melalui penerbitan obligasi ini, PT KAI akan mengalokasikan 55% untuk penyelesaian proyek infrastruktur kereta bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Selebihnya akan digunakan untuk pengadaan kereta.

Kinerja PT KAI selama ini pun tidak dapat dianggap sepele. Sebagai gambaran, pendapatan, laba bersih, aset dan ekuitas perseroan pada 2012-2016 tumbuh dengan CAGR masing-masing 20,04%, 24,41%, 29,41% dan 16,22%.

Rata-rata pertumbuhan angkutan penumpang perseroan adalah 10% per tahun, sementara angkutan barang lebih tinggi mencapai 25%-30% per tahun. Pada semeseter pertama tahun ini, pendapatan perseroan tumbuh 15,76% yoy, sementara laba bersih 47,73% yoy.

Tag : kereta api, Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top