BSSR Optimistis Raih Laba US$75 Juta Pada Akhir Tahun 2017

Emiten pertambangan batu bara PT Baramulti Suksessarana Tbk. (BSSR) omptimistis mengantongi perolehan laba bersih senilai US$75 juta pada 2017.
Hafiyyan | 22 Oktober 2017 11:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten pertambangan batu bara PT Baramulti Suksessarana Tbk. (BSSR) optimistis mengantongi perolehan laba bersih senilai US$75 juta pada 2017,

Direktur Utama BSSR Khoirudin menyampaikan, sampai akhir 2017, manajemen masih optimistis dapat membukukan laba bersih US$75 juta, naik 173,52% year on year (yoy) dari realisasi tahun lalu sebesar US$27,42. Pada 2016, perusahaan membukukan pendapatan US$242,59 juta dari penjualan 7,94 juta ton batu bara.

Sampai akhir 2017, perusahaan membidik total penjualan sebesar 9 juta—10 juta ton, atau melenceng dari target awal 10,3 juta ton. Pasalnya, BSSR mengalami kesulitan produksi saat cuaca hujan mendominasi.

“Kalau target optimis bisa sampai 10 juta ton, pesimis sekitar 9 juta ton tahun ini. Ada kendala hujan yang berkepanjang dari pertengahan tahun dan kemungkinan berlanjut sampai akhir 2017 ,” paparnya setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Jumat (20/10/2017).

Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), entitas perusahaan setuju membagikan dividen interim sebesar US$25 juta dari perolehan laba bersih semester I/2017 senilai US$42,06 juta. Pembagian dividen disepakati setelah 30 hari penyampaian risalah RUPS, atau sekitar bulan depan. Jumlah itu setara dengan Rp125,68 per lembar saham.

Berdasarkan data Bloomberg, BSSR memiliki 2,16 miliar lembar saham. Sekitar 8,18% atau 214,05 juta lembar menjadi milik publik. Pada penutupan perdagangan Jumat (20/10), saham BSSR turun 40 poin atau 1,52% menuju Rp2.600. Sepanjang 2017, harga tumbuh 92,65% dari penutupan 28 Desember 2016 di posisi Rp1.410.

Pada kuartal III/2017, sambung Khoirudin, secara unaudited perusahaan membukukan penjualan sekitar US$290 juta, naik 75% year on year (yoy). Adapun laba bersih berkisar US$63 juta, tumbuh 400% yoy.

Lonjakan pendapatan dan laba terjadi karena BSSR melakukan penghematan operasional sekaligus memacu produksi. Selain itu, perusahaan diuntungkan oleh faktor memanasnya harga batu bara.

“Dengan memacu produksi, pembaginya kan jadi besar. Kami juga diuntungkan kenaikan harga batu bara, makanya pendapatan dan laba naik,” ujarnya.

Khoirudin mengungkapkan, perolehan pendapatan hingga September 2017 merupakan hasil penjualan 7 juta ton batu bara yang meningkat 18% yoy. Komposisi pasar batu hitam perseroan ialah domestik sebesar 28%, China 28%, India 26%, dan Korea Selatan 16%.

Adapun jumlah produksi hampir serupa dengan penjualan, yakni 7 juta ton, atau tumbuh 20% yoy. Pasokan baru mayoritas berasal dari anak usaha perseroan, yakni Antang Gunung Meratus sebanyak 5,7 juta ton, sedangkan BSSR sendiri hanya menghasilkan 1,3 juta ton.

Konsumen domestik BSSR ialah perusahaan pembangkit listrik PT Lebak Banten Energi dan PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR). Kontrak penjualan sepanjang 2017 kepada kedua perusahaan sudah 90% terealisasi.

Pada tahap I periode semester II/2016—semester I/2017, BSSR menyuplai 500.000 ton batu bara kepada POWR. Adapun kontrak tahap II periode semester II/2017—semester I/2018 berjumlah 1,2 juta ton.

Sampai akhir 2017, manajemen masih optimistis dapat membukukan laba bersih US$75 juta, naik 173,52% yoy dari realisasi tahun lalu sebesar US$27,42. Pada 2016, perusahaan membukukan pendapatan US$242,59 juta dari penjualan 7,94 juta ton batu bara.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup