Dolar AS Catat Pekan Terbaik, Pasar Asia Variatif

Sejumlah indeks saham di Asia bergerak variatif pada awal perdagangan hari ini, Jumat (29/9/2017), saat dolar AS bergerak menuju pekan terbaiknya sepanjang tahun ini akibat didorong ekspektasi bahwa reformasi pajak AS akan menopang pertumbuhan ekonomi.
Renat Sofie Andriani | 29 September 2017 08:10 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah indeks saham di Asia bergerak variatif pada awal perdagangan hari ini, Jumat (29/9/2017), saat dolar AS bergerak menuju pekan terbaiknya sepanjang tahun ini akibat didorong ekspektasi bahwa reformasi pajak AS akan menopang pertumbuhan ekonomi.

Indeks Topix Jepang turun 0,3% pada pukul 9.22 pagi waktu Tokyo (pukul 7.22 WIB), sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menanjak 0,5%.

Sementara itu, indeks MSCI Asia Pacific Index turun untuk hari keenam berturut-turut. Meski demikian, MSCI tetap akan mencatatkan penguatan kuartalan ketiga, rentetan penguatan terbaik sejak akhir kuartal pertama 2013.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS bergerak lebih stabil pada perdagangan pagi ini setelah mengalami pelemahan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Dilansir Bloomberg, indeks saham acuan di Jepang bergerak ke posisi lebih rendah sementara indeks saham di Korea Selatan dan Australia bergerak lebih tinggi secara moderat.

Inflasi Jepang mencatatkan kenaikan tertinggi dalam lebih dari dua tahun pada bulan Agustus sekaligus kenaikan bulan kedelapan. Sementara itu, produksi industri nasional naik 2,1% bulan lalu atau lebih baik dari prediksi kenaikan sebesar 1,8%.

Investor bersiap atas adanya potensi ketidakpastian akhir kuartal pada hari ini, sementara beberapa pasar utama, termasuk China, akan meniadakan aktivitas perdagangan untuk libur panjang.

Pada akhir perdagangan Kamis (28/9), sejumlah indeks saham acuan di bursa Wall Street AS ditutup menguat, didorong harapan investor bahwa Presiden Donald Trump akan dapat membuat kemajuan dalam reformasi pajak.

Prediksi penaikan suku bunga AS oleh The Federal Reserve dalam pertemuan kebijakannya pada Desember saat ini mencapai sekitar 65%. Spekulasi investor bahwa negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut dapat menghadapi efek kebijakan yang lebih ketat, membawa gerak saham menguat dan menarik aliran dana dari emas.

Di sisi lain, rencana pajak Trump, yang masih memerlukan persetujuan dari Kongres, saat ini masih belum banyak memberikan detail sehingga membuat investor menduga-duga bagian mana dari rencana tersebut yang akan diprioritaskan oleh pemerintah.

Tag : bursa asia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top