Anjlok ke Level Terendah 10 Bulan, Rupiah Diprediksi Stabil

Mata uang rupiah diperkirakan masih stabil di kisaran Rp13.200Rp13.400 per dolar AS pada akhir 2017 meskipun hari ini anjlok ke level terendah 10 bulan.
Hafiyyan | 28 September 2017 20:58 WIB
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA—Mata uang rupiah diperkirakan masih stabil di kisaran Rp13.200—Rp13.400 per dolar AS pada akhir 2017 meskipun hari ini anjlok ke level terendah 10 bulan.

Pada penutupan perdagangan Kamis (28/9/2017), rupiah (IDR) ditutup melemah 70 poin atau 0,52% menuju Rp13.515 per dolar AS setelah diperdagangkan di kisaran Rp13.426—Rp13.594 per dolar AS.

Ini merupakan level terendah sejak 1 Desember 2016 di posisi Rp13.565 per dolar AS.

Penurunan ini menunjukkan mata uang Garuda merosot 4 hari berturut-turut sebesar 203 poin atau 1,78%. Adapun kurs tengah BI kemarin dipatok Rp13.464 per dolar AS.

Senior Research and Analyst Asia Trade Point Futures (ATPF) Andri Hardianto menyampaikan, pelemahan rupiah kemarin terjadi akibat minimnya sentimen domestik dan tekanan eksternal, terutama dari Amerika Serikat yang menguatkan dolar AS.

Pada hari ini pukul 16.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terkoreksi tipis 0,013% atau 0,013 poin menjadi 93,361. Sebebelumnya pada siang hari, DXY terpantau menghijau meneruskan tren dalam tiga hari ke belakang.

Penguatan greenback terjadi akibat rencana pemangkasan pajak yang diusung Presiden Donald Trump dan pidato Gubernur Federal Reserve yang cenderung hawkish.

Dalam rincian reformasi pajak, Partai Republik dan Gedung Putih sepakat untuk memangkas pungutan bagi perusahaan dari 35% menjadi 20%, bila dapat membawa pulang dana mereka diluar negeri atau repatriasi.

Sementara itu, sentimen hawkish menguatkan pandangan akan adanya dua pengetatan kebijakan moneter dari Fed, yakni normalisasi aset sebesar US$4,5 triliun pada Oktober 2017 dan penaikkan suku bunga lanjutan pada Desember 2017.

“Ketika sentimen eksternal begitu dominan, harga rupiah cenderung bergejolak sehingga fluktuasinya tajam,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (28/9/2017).

Namun, pada perdagangan sore pelaku pasar cenderung melepas greenback karena menantikan data PDB AS kategori final pada Kamis (28/9) malam. Konsensus memperkirakan angka PDB stabil di level 3%, sehingga dolar diperkirakan siap menanjak kembali setelah rilis data tersebut.

Ke depannya, sentimen utama yang mengerakkan rupiah masih dari eksternal, yakni rencana pengetatan kebijakan moenter Fed. Selain itu, pergerakan harga komoditas yang terimbas dari data ekonomi China cukup memengaruhi selera pasar terhadap IDR.

Adapun dari sisi internal, pelaku pasar akan mencermati efek pemangkasan suku bunga acuan 7DDR menjadi 4,25% terhadap pertumbuhan kredit perbankan di sektor bisnis. Di samping itu, faktor belanja pemerintah yang pro pertumbuhan seperti di sektor infrastruktur dapat menarik kembali kepercayaan investor.

Dengan fundamental domestik yang cukup kuat, Andri memprediksi mata uang rupiah cenderung stabil pada akhir 2017 di kisaran Rp13.200—Rp13.400 per dolar AS.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, Rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top