Kemenangan Merkel Bebani Euro, Dolar AS Menguat

Pergerakan indeks dolar AS terpantau menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (25/9/2017), seiring dengan pelemahan kinerja euro setelah Kanselir Angela Merkel memenangkan pemilihan umum Jerman.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 September 2017  |  10:12 WIB
Kemenangan Merkel Bebani Euro, Dolar AS Menguat
Dolar AS. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks dolar AS terpantau menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (25/9/2017), seiring dengan pelemahan kinerja euro setelah Kanselir Angela Merkel memenangkan pemilihan umum Jerman.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,09% atau 0,080 poin ke 92,251 pada pukul 09.34 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan penguatan di level 92,390, setelah pada perdagangan Jumat (22/9) berakhir di posisi 92,171.

Sementara itu, nilai tukar euro melemah 0,2% di level US$1,1934, kian menjauhkannya dari level tertinggi dalam 2,5 tahun di posisi US$1,2092 yang dicapai pada 8 September di tengah optimisme bahwa European Central Bank (ECB) akan mulai meruncingkan program stimulusnya.

Merkel akan menjadi kanselir Jerman untuk keempat kalinya setelah partai pendukungnya, Partai Persatuan Demokrat Kristen atau CDU menang dalam pemilu yang berlangsung Minggu (24/9).

Meski demikian, kemenangannya dirusak oleh hasil yang lebih buruk dari perkiraan, yang dapat menimbulkan perundingan koalisi yang sulit saat dukungan untuk partai sayap kanan melonjak.

Partai Demokrat Sosial (Social Democratic Party/SDP) memutuskan untuk tidak melakukan kesepakatan dengan Partai Persatuan Demokrat Kristen (Christian Democratic Union/CDU) pimpinan Merkel.

Hal ini membuat pembentukan pemerintah akan semakin menantang. Sebaliknya, Merkel harus bernegosiasi dengan Partai Demokrat Bebas (Free Democratic Party) yang pro-bisnis dan Partai Hijau/Aliansi 90 dan dapat memakan waktu berbulan-bulan.

“Pasar bereaksi dengan menjual euro akibat kemungkinan bahwa Merkel akan mengalami kesulitan dalam membentuk sebuah koalisi. Euro, bagaimanapun, telah kehilangan dukungannya akibat kebijakan moneter ECB dan tampaknya akan mengarah ke jalur yang lebih rendah,” kata Daisuke Karakama, kepala ekonom pasar di Mizuho Bank, seperti dikutip dari Reuters.

“Hasil pemilihan di Jerman menunjukkan bahwa negara tersebut tidak lagi menjadi istimewa di Eropa di tengah meningkatnya dukungan terhadap populisme dan sayap kanan,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top