Emisi Obligasi Korporasi Sektor Rill Tembus Rekor Baru

Realisasi penerbitan obligasi korporasi dari korporasi-korporasi sektor riil sejak awal tahun ini hingga Agustus telah mencapai Rp38,3 triliun, level tertingginya dalam enam tahun terakhir.
Emanuel B. Caesario | 22 September 2017 05:23 WIB
Ilustrasi. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Realisasi penerbitan obligasi korporasi dari korporasi-korporasi sektor riil sejak awal tahun ini hingga Agustus telah mencapai Rp38,3 triliun, level tertingginya dalam enam tahun terakhir.

Berdasarkan data yang dirangkum Pefindo, total penerbitan obligasi korporasi tahun ini hingga Agustus telah mencapai Rp109,73 triliun. Dengan demikian, nilai emisi dari korporasi sektor riil atau non-finansial telah mencapai 35% dari total emisi.

Realisasi tersebut menjadi yang tertinggi bagi sektor non-finansial dalam enam tahun terakhir, baik secara nilai maupun persentasenya terhadap total penerbitan.

Pada 2012, nilai emisi korporasi non finansial mencapai Rp23 triliun atau 33,65% dari total emisi, pada 2013 senilai Rp19,14 triliun atau 33,2% dan pada 2014 senilai Rp15,31 triliun atau 33,11% dari total emisi.

Sementara itu, pada 2015 total emisi non-finansial mencapai Rp18,81 triliun atau 30% dari total emisi, dan pada 2016 senilai Rp24,92 triliun atau 21,84% dari total emisi.

Dari segi jumlah emiten, jumlah emiten kedua sektor hingga Agustus tahun ini sama banyaknya, yakni masing-masing 36 emiten. Sektor finansial berasal dari 18 emiten perbankan dan 18 emiten pembiayaan, sementara sektor non-finansial berasal dari 21 sektor berbeda dengan jumlah emiten antara 1 hingga 4 per sektor.

Sementara itu, Pefindo masih mengantongi mandat penerbitan obligasi korporasi per September tahun ini senilai Rp43,59 triliun dari 37 korporasi. Sebanyak 27 atau 73% di antaranya dari sektor non-finansial.

Hendro Utomo, Wakil Presiden Senior Pefindo, mengatakan bahwa sektor riil tahun ini cukup gencar meramaikan pasar obligasi korporasi. Hal ini banyak didukung oleh kebijakan pemerintah yang menguatkan pasar dari sisi supply dan demand sekaligus.

Pemerintah mendorong BUMN infrastruktur untuk mencari dana di pasar modal untuk membiayai proyek, tetapi di sisi lain juga mendorong institusi keuangan non-bank untuk menanamkan instrumennya pada korporasi infrastruktur.

Niken Indriarsih, analis Pemeringkat Efek Indoensia, mengatakan bahwa sektor non-finansial selama ini belum cukup banyak menerbitkan obligasi karena masih bisa mengandalkan pinjaman bank yang prosesnya lebih sederhana.

Penerbitan obligasi oleh korporasi tahun ini mendapat momentumnya ketika proyek infrastruktur semakin massif dan perbankan kesulitan untuk mendukung pembiayaannya. Mau tidak mau, korporasi pun terjun menggalang dana lewat obligasi.

“Mungkin juga karena pertumbuhan ekonomi, prospek saat ini dan ke depan harapannya leibh baik, sehingga orang akan investasi, ekspansi, dan cari alternatif pembiayaan,” katanya, dikutip Kamis (21/9/2017).

Tag : obligasi korporasi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top