Bom Hidrogen Korut Ancam Pasifik, Pasar Asia Melemah Siang Ini

Sejumlah indeks saham di Asia melemah pada perdagangan siang ini, Jumat (22/9/2017), menyusul kabar bahwa Korea Utara dapat merespon sanksi baru yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan bom hidrogen di Pasifik.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 September 2017  |  12:35 WIB
Bom Hidrogen Korut Ancam Pasifik, Pasar Asia Melemah Siang Ini
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah indeks saham di Asia melemah pada perdagangan siang ini, Jumat (22/9/2017), menyusul kabar bahwa Korea Utara dapat merespons sanksi baru yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan bom hidrogen di Pasifik.

Indeks Topix Jepang turun 0,4% pada pukul 1 siang waktu Tokyo dan indeks Kospi Korea Selatan tergelincir 0,7%. Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia melandai 0,3%, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,9%, indeks Shanghai Composite turun 0,5%.

Dilansir Bloomberg, setelah awal yang datar pada sesi perdagangan di Asia, indeks acuan di Tokyo dan Seoul turun. Indeks Hang Seng Hong Kong ikut melemah setelah lembaga pemeringkat S&P memangkas peringkatnya tak lama setelah menurunkan peringkat China.

Sementara itu, imbal hasil obligasi turun, sedangkan kinerja yen dan emas menguat setelah Yonhap News, mengutip seorang pejabat Korea Utara, mengatakan bahwa tindakan paling keras terhadap AS dapat mengarah pada bom hidrogen di Samudra Pasifik.

Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho mengatakan bahwa negaranya mungkin mempertimbangkan untuk menguji bom hidrogen di Samudra Pasifik. Sejauh ini, uji coba nuklir Korea Utara diluncarkan di daratan wilayahnya sendiri.

Komentar Ri tersebut muncul setelah pernyataan dari pemimpin Korut Kim Jong Un yang menyebut penyataan Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa awal pekan ini sebagai "omong kosong".

Kim Jong-un juga menyebut Donald Trump mengalami “gangguan mental” dan mengingatkan bahwa presiden AS itu akan menerima pembalasan yang setimpal dengan ancamannya akan “menghancur-leburkan” Korea Utara.

Pada Kamis (21/9) waktu setempat, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan sanksi baru untuk menindak tegas individu, perusahaan, maupun bank yang melakukan bisnis dengan Korea Utara.

Langkah ini diambil sebagai upaya untuk lebih mengisolasi negara beribu kota Pyongyang tersebut serta meningkatkan tekanan ekonomi terhadap rezim Kim Jong Un demi menahan program persenjataannya.

Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang memberi otorisasi kepada Departemen Keuangan AS untuk secara efektif memutuskan setiap individu atau entitas asing dari sistem finansial AS yang telah melakukan bisnis dengan Korea Utara, termasuk bank-bank asing.

Informasi Gedung Putih menunjukkan bahwa kapal maupun pesawat menuju Korea Utara atau yang melakukan pengiriman dengan kapal lain yang telah mengunjungi Korea Utara akan dilarang di AS selama 180 hari.

Ancaman baru Korea Utara mengalihkan perhatian investor dari keputusan kebijakan moneter yang telah mendominasi pasar pekan ini.

Investor terus mengawasi pidato para pembuat kebijakan The Federal Reserve yang mungkin dapat menawarkan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah bank sentral tersebut. Spekulasi penaikan suku bunga yang lebih tinggi pada akhir tahun ini meningkat pasca pertemuan kebijakan pekan ini.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, Korea Utara

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top