Wall Street Melemah di Antara Putusan Fed, Tensi Korea Utara, dan Apple

Pergerakan sejumlah indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street turun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), saat investor bersiap untuk kenaikan suku bunga AS ketiga tahun ini serta setelah pemerintah mengumumkan sanksi baru terhadap Korea Utara.
Renat Sofie Andriani | 22 September 2017 06:47 WIB
Wallstreet - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan sejumlah indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street turun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), saat investor bersiap untuk kenaikan suku bunga AS ketiga tahun ini serta setelah pemerintah mengumumkan sanksi baru terhadap Korea Utara.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,24% atau 53,36 poin di 22.359,23. Indeks Nasdaq Composite melorot 0,52% atau 33,35 poin di level 6.422,69, sedangkan indeks S&P 500 berakhir turun 0,30% atau 7,64 poin di posisi 2.500,6.

Baik indeks S&P dan Dow Jones mengakhiri reli rekor yang dibukukan beberapa hari sebelumnya. Saham Apple menjadi penekan terbesar terhadap tiga indeks utama dengan penurunan sebesar 1,7% akibat kekhawatiran tentang permintaan untuk smartphone terbarunya.

Investor meningkatkan spekulasi bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga kembali tahun ini. Pada pertemuan kebijakan yang berakhir Rabu (20/9), bank sentral AS tersebut juga mempertimbangkan keputusan untuk mulai mengurangi obligasinya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan untuk membuat daftar hitam bagi pihak-pihak yang melakukan bisnis dengan Korea Utara, serta selanjutnya akan memperketat tindakan terhadap program nuklir dan rudal Pyongyang.

“The Fed telah membuat investor berhati-hati. Meningkatnya tensi atas Korea Utara juga dapat menempatkan investor sedikit lebih menghindari aset berisiko,” kata Chris Zaccarelli, chief investment officer di Cornerstone Financial Partners, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/9/2017).

Namun, dengan Indeks CBOE Volatility ditutup di level terendahnya dalam hampir dua bulan, Peter Cecchini, kepala pakar strategi pasar di Cantor Fitzgerald, mengatakan bahwa pasar tidak mencerminkan risiko seperti ketegangan AS-Korea Utara dan valuasi yang tinggi.

“Pasar terlihat sangat puas dan sangat nyaman saat ini serta tidak terlalu memperhatikan risiko sama sekali. Ini mengkhawatirkan,” kata Cecchini.

Dalam pernyataan pasca rapat kebijakan, Gubernur The Fed Janet Yellen mengungkapkan bahwa pelemahan inflasi tahun ini tetap menjadi misteri dan bahwa The Fed siap mengubah prospek suku bunga jika diperlukan.

Sementara itu, menurut CME FedWatch, prediksi penaikan suku bunga AS pada Desember mencapai sekitar 70% atau naik dari sekitar 51% sebelum rilis pernyataan The Fed.

Hanya dua dari 11 sektor utama S&P, yakni finansial dan industri, yang naik masing-masing sebesar 0,2% dan 0,3%. Indeks bahan pokok konsumen mengalami penurunan terbesar sebesar 0,97%.

Tag : korea utara, wall street
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top