Wall Street Cetak Rekor Baru, Pasar Asia Menguat

Pergerakan sejumlah indeks saham di Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Selasa (19/9/2017), mengekor rekor baru yang dibukukan Wall Street.
Renat Sofie Andriani | 19 September 2017 08:20 WIB
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan sejumlah indeks saham di Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Selasa (19/9/2017), mengekor rekor baru yang dibukukan Wall Street.

Indeks Topix Jepang menguat 1,1% pada pukul 9.17 pagi waktu Tokyo (pukul 7.17 WIB). Adapun indeks Kospi Korea Selatan bergerak fluktuatif dan indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,3%.

Pada akhir perdagangan Senin (18/9), sejumlah indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street berhasil memperbarui rekornya, menjelang pertemuan rapat kebijakan The Federal Reserve serta seiring dengan meredanya tensi seputar isu Korea Utara.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,28% atau 63,01 poin di 22.331,35. Indeks Nasdaq Composite naik 0,1% atau 6,17 poin di level 6.454,64 sedangkan indeks S&P 500 berakhir menguat 0,15% atau 3,64 poin di posisi 2.503,87.

Indeks Dow Jones mencetak rekor barunya untuk sesi perdagangan kelima berturut-turut, sedangkan indeks S&P membukukan rekor untuk sesi perdagangan kedua berturut-turut, ditopang penguatan saham finansial.

Indeks saham acuan Jepang berhasil mengawali perdagangan pekan ini dengan kenaikan lebih dari 1% setelah libur kemarin, meski pada saat yang sama performa yen menguat.

Dilansir Bloomberg, nilai tukar yen pagi ini terapresiasi meski masih sedikit tertahan pada sebagian besar pelemahan yang dibukukan selama dua sesi perdagangan sebelumnya.

Di sisi lain, harga emas bergerak ke posisi lebih rendah seiring dengan berkurangnya permintaan untuk aset safe haven selama dua perdagangan terakhir, sedangkan harga minyak masih tertahan di bawah US$50 per barel.

Pasar tetap memperlihatkan minatnya terhadap aset berisiko setelah penguatan pekan lalu. Fokus para investor saat ini tertuju pada pertemuan kebijakan The Fed yang akan berlangsung 19-20 September waktu setempat.

Meski bank sentral AS tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya, perhatian investor akan diberikan pada sinyal prospek penaikan suku bunga di akhir tahun serta rencana dimulainya penyusutan neraca senilai US$4,5 triliun.

Pada saat yang sama, risiko geopolitik kemungkinan tetap akan membayangi menjelang penyampaian pidato oleh Presiden AS Donald Trump dalam sidang tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hari ini, dengan isu utama mengenai denuklirisasi Korea Utara dan Iran.

 

Tag : bursa asia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top