Defisit 67.000 Ton, Fundamental Tembaga Masih Kuat

Harga tembaga dapat kembali naik seiring dengan volume permintaan yang melebihi pasokan dan pelemahan dolar AS.
Hafiyyan | 18 September 2017 11:10 WIB
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA—Komisi Tembaga Cile (Chilean Copper Commission/ Cochilco) mengungkapkan harga tembaga dapat kembali naik seiring dengan volume permintaan yang melebihi pasokan dan pelemahan dolar AS.

Executive Vice President of the Chilean Copper Commission (Cochilco) Sergio Hernandez menuturkan, harga memang sedang mengalami koreksi. Namun, kondisi pasar akan membaik seiring dengan defisit pasokan.

Pada perdagangan Senin (18/9/2017) pukul 8.16 WIB, harga tembaga Comex kontrak Desember 2017 naik 0,015 poin atau 0,51% menuju US$2,9640 per pon. Harga merosot dari level tertinggi pada 6 September 2017 di posisi US$3,1515 per pon.

Adapun harga tembaga di London Metal Exchange (LME) pada penutupan perdagangan Jumat (15/9/2017) naik 9 poin atau 0,14% menuju US$6.507 per ton. Harga tergelincir dari puncaknya pada 4 September 2017 di posisi US$6.917 per ton.

Hernandez menyampaikan, harga tembaga memang naik terlalu cepat. Hal ini ditunjang pelemahan dolar AS, sehingga meningkatkan permintaan dari pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Sebagian pembeli juga melakukan upaya lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi konflik militer global.

Namun, dengan pertumbuhan ekonomi China yang melampaui proyeksi, ekonomi Eropa menuju kestabilan, dan permintaan untuk pembangkit listrik serta kendaraan bertumbuh, harga tembaga berpotensi semakin kuat.

“Saya berharap pada Oktober kami dapat mengumumkan perkiraan rata-rata harga sepanjang 2017 yang lebih tinggi dari US$2,64. Perkiraan 2018 tentunya juga akan lebih tinggi,” papar Hernandez, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (18/9/2017).

Pada Juli 2017, Cochilco memprediksi rerata harga tembaga 2017 ialah US$2,64 per pon, dan pada 2018 sebesar US$2,68 per pon. Namun, kini tembaga diperdagangkan di kisaran US$2,96 per pon sehingga mencapai rata-rata sepanjang tahun senilai US$2,70 per pon.

Cile, sebagai negara penghasil tembaga terbesar di dunia, sedang melihat tanda-tanda pemulihan investasi pertambangan ketika harga komoditas yang kerap disebut sebagai ‘red metal’ (logam merah) mengalami perbaikan harga.

Pipeline proyek pertambangan 10 tahun untuk pertama kalinya meningkat pada 2017, setelah tiga tahun sebelumnya melesu. Tahun ini, jumlah proyeksi diperkirakan mencapai 46 buah dengan nilai US$62 miliar.

Cochilco memprediksi, jumlah defisit tembaga global pada 2017 mencapai 67.000 ton. Volume tersebut setara dengan satu hari konsumsi global. Defisit diperkirakan berlangsung sampai 3—5 tahun ke depan.

“Anda tidak bisa mengantisipasi berapa proyek baru yang akan beroperasi dalam waktu 4 tahun, apalagi tembaga itu sulit. Ada banyak jarak waktu antara saat Anda membuat keputusan investasi dan operasi dimulai,” ujarnya.

Inovasi mobil listrik akan menyerap lebih banyak tembaga, terutama dari perusahaan seperti Tesla Inc., atau Mitsubishi Corp. Mobil listri menggunakan tiga kali lebih banyak tembaga dibandingkan konvensional.

Oleh karena itu, sambung Hernandez, sektor otomotif akan menyumbang 15%-20% konsumsi tembaga global. Estimasi itu naik 8,5% dari penyerapan sebelumnya.

“Mereka [mobil listrik] adalah masa depan dan memberikan dampak positif bagi Cile,” tuturnya.

Tag : komoditas, tembaga
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top