Inflasi AS Lampaui Perkiraan, Dolar Malah Lesu

Pergerakan indeks dolar AS terpantau lanjut terkoreksi pada perdagangan pagi ini, Jumat (15/9/2017), meski rilis data inflasi Agustus menunjukkan hasil yang lebih baik daripada prediksi.
Renat Sofie Andriani | 15 September 2017 10:34 WIB
Mata uang dolar Amerika Serikat - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks dolar AS terpantau lanjut terkoreksi pada perdagangan pagi ini, Jumat (15/9/2017), meski rilis data inflasi Agustus menunjukkan hasil yang lebih baik daripada prediksi.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terkoreksi 0,05% atau 0,046 poin ke 92,078 pada pukul 09.42 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka turun 0,11% atau 0,098 poin di level 92,026, setelah pada perdagangan Kamis (14/9) berakhir melemah 0,43% di posisi 92,124.

Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS, indeks harga konsumen (IHK) meningkat 0,4% pada bulan Agustus dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/mom).

Angka ini lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,3% dan angka bulan sebelumnya yang hanya 0,1%. Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, IHK naik 1,9%.

Sementara itu, IHK inti yang tidak termasuk makanan dan energi naik 0,2% dibanding bulan sebelumnya dan 1,7% dibanding bulan yang sama tahun lalu.

Kenaikan IHK inti tersebut mengakhiri penurunan lima bulan berturut-turut sebelumnya, dan dapat menenangkan kekhawatiran bahwa inflasi telah melambat secara lebih luas. Meski demikian, masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan apakah angka positif tersebut dapat dipertahankan.

Para ekonom mengatakan bahwa inflasi dapat tetap meningkat selama beberapa bulan ke depan karena data tersebut secara keseluruhan menggabungkan dampak dari badai Harvey dan Irma.

Perbaikan angka inflasi ini dapat membuat Federal Reserve cenderung menaikkan suku bunga pada bulan Desember. Adapun pertemuan The Fed pekan depan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya sambil mengumumkan dimulainya proses bertahap untuk menurunkan neraca keuangan mereka.

“Angka inflasi, meski mungkin belum cukup tinggi untuk menyingkirkan peringatan atas inflasi, semestinya cukup mempertahankan harapan penaikan suku bunga ketiga kalinya pada bulan Desember oleh the Fed,” kata Omer Esiner, kepala analis pasar di Commonwealth Foreign Exchange, seperti dikutip Reuters.

Namun menurut Sireen Harajli, pakar strategi FX di Mizuho, tekanan inflasi masih lemah dan pasar terus memiliki banyak keraguan apakah The Fed akan melakukan langkah tersebut pada Desember.

Dolar pun pagi ini terbebani oleh penguatan mata uang yen, menyusul kabar peluncuran rudal terbaru oleh Korea Utara ke Samudra Pasifik. Seperti diketahui, mata uang yen sebagai aset safe haven diuntungkan peristiwa yang berpotensi memicu ketegangan geopolitik.

Nilai tukar yen hari ini terpantau terapresiasi 0,11% atau 0,12 poin ke 110,12 pada pukul 09.52 WIB, setelah pada Kamis (14/9) berakhir menguat 0,23% di 110,24 per dolar AS.

Masashi Murata, pakar strategi mata uang untuk Brown Brothers Harriman di Tokyo, mengatakan bahwa pasar telah memperkirakan potensi Korea Utara membalas sanksi terakhir yang diberlakukan terhadap Pyongyang oleh Dewan Keamanan PBB.

“Dolar tidak mungkin mengalami banyak penurunan terhadap yen, terutama setelah data inflasi konsumen AS yang terbaru memperkuat harapan bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga lagi pada akhir tahun,” tambah Murata.

Posisi indeks dolar AS                                       

15/9/2017

(Pk. 09.42 WIB)

92,078

(-0,05%)

14/9/2017

92,124

(-0,43%)

13/9/2017

92,520

(+0,69%)

12/9/2017

91,882

(+0,01%)

11/9/2017

91,875

(+0,57%)

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

 

 

Tag : dolar as, Inflasi, korea utara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top