Pasar Asia Gugup Tunggu Rilis Data Ekonomi

Reli sejumlah indeks saham di Asia mengambil jedanya pada perdagangan pagi, Kamis (14/9/2017), menjelang rilis data ekonomi China dan inflasi Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan dapat menunjukkan kondisi ekonomi global dan langkah-langkah bank sentral.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 September 2017  |  08:17 WIB
Pasar Asia Gugup Tunggu Rilis Data Ekonomi
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Reli sejumlah indeks saham di Asia mengambil jedanya pada perdagangan pagi, Kamis (14/9/2017), menjelang rilis data ekonomi China dan inflasi Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan dapat menunjukkan kondisi ekonomi global dan langkah-langkah bank sentral.

Indeks Topix Jepang berfluktuasi pada pukul 9.07 pagi waktu Tokyo (pukul 07.07 WIB), sedangkan indeks Kospi Korea Selatan bergerak lebih kecil dan indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,2%.

Sementara itu, bursa Wall Street berakhir naik tipis menyentuh rekor barunya pada akhir perdagangan Rabu (13/9), di tengah kenaikan saham diskresioner dan energi serta pelemahan saham Apple Inc.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 39,32 poin atau 0,18% ke 22.158,18, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 menguat 1,89 poin atau 0,08% ke 2.498,37, dan Nasdaq Composite naik 5,91 poin atau 0,09% ke 6.460,19.

Dilansir Bloomberg, indeks saham acuan di Tokyo, Seoul, dan Sydney bergerak ke posisi lebih rendah pagi ini setelah indeks S&P 500 harus berjuang memperpanjang rekornya.

Di sisi lain, dolar AS mendapatkan dukungan dari sedikit peningkatan ekspektasi penaikan suku bunga AS serta upaya Presiden Donald Trump mendorong reformasi pajak AS.

Harapan atas perombakan pajak AS dipacu oleh pernyataan Ketua DPR AS Paul Ryan mengenai rencana untuk memiliki sistem pajak baru yang akan berfungsi tahun depan.

Data harga konsumen AS yang akan dirilis hari ini waktu setempat dapat mempengaruhi pendapat mengenai kemungkinan pengetatan lebih lanjut tahun ini. Di Inggris, Bank of England (BoE) diperkirakan akan mempertahankan keputusan kebijakan moneternya.

Pada saat yang sama, rilis data penjualan ritel, produksi industri, dan investasi aset tetap China diharapkan akan memberi petunjuk terbaru mengenai kekuatan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut setelah saham global mencapai level tertinggi sepanjang masa pekan ini.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top