Goldman Sachs: Proyeksi Harga Komoditas 2017 Kurang Tepat

Tim analis dari Goldman Sachs Group Inc mungkin tidak menjadi satu-satunya pihak yang salah memprediksi harga komoditas pada tahun ini. Namun, mereka mencoba mencari tahu penyebabnya.
Hafiyyan | 30 Juni 2017 11:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Tim analis dari Goldman Sachs Group Inc mungkin tidak menjadi satu-satunya pihak yang salah memprediksi harga komoditas pada tahun ini. Namun, mereka mencoba mencari tahu penyebabnya.

Harga komoditas anjlok sekitar 9% sejak mencapai puncaknya di dalam tahun ini pada pertengahan Februari 2017. Menurut Goldman, salah satu faktor penting yang tidak dapat diprediksi ialah kenaikan produksi minyak di Libya dan Nigeria, serta faktor cuaca terhadap tanaman perkebunan.

“Tapi ini masih menyisakan pertanyaan mengapa kita dan pasar dapat salah dalam memprediksi,” paparnya dalam laporan yang dikutip dari Bloomberg, Jumat (30/6/2017).

Laporan tersebut muncul kurang dari 24 jam setelah Goldman dan sejumlah perusahaan finansial raksasa lainnya seperti JPMorgan Chase&Co, Morgan Stanley, dan Sociate Generale SA memangkas proyeksi harga minyak mentah 2017.

Goldman Sachs Group Inc. merevisi proyeksi harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada kuartal III/2017 menjadi US$47,50 per barel dibandingkan estimasi sebelumnya senilai US$55 per barel akibat proyeksi bertumbuhnya suplai.

Dalam risetnya, tim analis Goldman menyampaikan OPEC membutuhkan pemotongan pasokan yang lebih dalam untuk menyeimbangkan pasar minyak mentah. Hal ini untuk mengantisipasi lonjakan suplai dari anggotanya sendiri, yakni Libya dan Nigeria.

Seperti diketahui, OPEC dan negara sekutu setuju memangkas produksi hingga 1,8 juta barel per hari (bph) sampai kuartal I/2018. Perjanjian ini merupakan perpanjangan dari kesepakatan sebelumnya yang berlangsung dari Januari hingga Juni 2017.

Namun demikian, Libya dan Nigeria dibebaskan dari perjanjian tersebut. Pasalnya, kedua negara perlu memulihkan kondisi perekonomian setelah mengalami serangan pasukan militant.

“Peningkatan produksi tak terduga dari dua negara tersebut harus diantisipasi agar pasar kembali seimbang,” papar Goldman.

Volume produksi minyak mentah Libya per Juni 2017 sudah mencapai 715.430 ribu barel per hari (bph). Ini merupakan level tertinggi sejak Juni 2013 sejumlah 1,32 juta bph.

Pada Agustus 2017, produksi minyak Nigeria diperkirakan bisa mencapai 226.000 bph atau meningkat dari Juni 2017 sebesar 164.000 bph. Sementara itu produksi minyak Libya diperkirakan mencapai 902.000 bph, atau angka tertinggi dalam 4 tahun terakhir.

“Trader sudah salah memprediksi harga komoditas tahun ini. Meski OPEC melakukan pemotongan, harga minyak masih tergelincir,” tuturnya.

Menurut Goldman, hal ini terjadi karena adanya salah perhitungan mengenai volume suplai dan permintaan. Padahal faktor fundamental ini menjadi kunci utama dalam menentukan harga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga komoditas

Sumber : bloomberg
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top