Minyak Rebound, Bursa Saham di Asia Bergerak Mixed Pagi Ini

Pergerakan bursa saham di Asia mengakhiri pekan ini dengan catatan yang kurang antusiastik, dengan harga minyak mentah yang tetap di bawah US$43 per barel, setelah sejumlah pejabat The Federal Reserve tidak banyak mengubah proyeksi untuk arah kenaikan suku bunga AS.
Renat Sofie Andriani | 23 Juni 2017 10:31 WIB
BUrsa Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan bursa saham di Asia mengakhiri pekan ini dengan catatan yang kurang antusiastik, dengan harga minyak mentah yang tetap di bawah US$43 per barel, setelah sejumlah pejabat The Federal Reserve tidak banyak mengubah proyeksi untuk arah kenaikan suku bunga AS.

Perdagangan emiten China di Hong Kong naik sementara pergerakan saham di Jepang berfluktuasi dalam kisaran yang sempit. Saham-saham Cina tetap menjadi perhatian setelah pihak pengawas perbankan nasional tersebut meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah dealmaker terbesar.

Indeks Topix Jepang turun kurang dari 0,1% pada pukul 11.22 pagi waktu Tokyo (pukul 09.22 WIB), sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia dan indeks Kospi Korea Selatan masing-masing bergerak flat. Sementara itu, indeks Hang Seng naik 0,2% dan indeks Shanghai Composite tergelincir 0,1%.

Adapun harga minyak mentah menghentikan penurunan beruntunnya setelah sempat jatuh ke dalam kondisi bear market, namun kekhawatiran akan kelebihan pasokan tetap berlanjut, sehingga membantu emas untuk terus naik kembali dari level terendah satu bulan.

Harga minyak WTI kontrak Agustus 2017 hari ini terpantau menguat 0,23% ke US$42,84 per barel pada pukul 09.07 WIB, setelah kemarin berakhir rebound 0,49% di posisi 42,74.

Dilansir Bloomberg (Jumat, 23/6/2017), saham global, dibantu oleh rebound pada saham teknologi, telah bertahan pekan ini dalam menghadapi kekhawatiran investor tentang kemungkinan kekeliruan dalam kebijakan The Fed dan penurunan di pasar minyak yang berlanjut untuk pekan kelima.

Di tengah kekhawatiran bahwa pencapaian inflasi akan meleset dari ekspektasi serta ekonomi AS tidak sebaik seperti yang ditunjukkan oleh Gubernur The Fed Janet Yellen, pasar memperkirakan peluang penaikan satu kali penaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.

Salah satu pejabat The Fed, James Bullard, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa arah suku bunga yang telah disusun oleh FOMC nampaknya tidak perlu agresif. Ia juga berpendapat bahwa langkah terhadap neraca keuangan harus dimulai lebih awal daripada di kemudian hari.

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Theresa May akan memberi pernyataan kepada parlemen Inggris pada hari Senin, ketika rincian proposalnya untuk melindungi hak residensi warga Eropa yang saat ini tinggal di Inggris akan dipublikasikan oleh pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia, Harga Minyak

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top