Mohammed bin Salman Putra Mahkota Saudi. Pasar Minyak Terancam?

Penunjukan Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota Arab Saudi menyebabkan pasar energi perlu bersiap untuk kebijakan luar negeri Arab Saudi yang lebih tegas serta dapat mengancam stabilitas regional di jantung industri minyak global tersebut.
Renat Sofie Andriani | 22 Juni 2017 12:08 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Penunjukan Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota Arab Saudi menyebabkan pasar energi perlu bersiap untuk kebijakan luar negeri Arab Saudi yang lebih tegas serta dapat mengancam stabilitas regional di jantung industri minyak global tersebut.

Mohammed bin Salman, 31, telah mendukung keterlibatan kerajaan Saudi dalam sebuah perang di Yaman serta putusnya hubungan diplomatik dengan sesama anggota organisasi negara pengekspor minyak (OPEC), Qatar.

Kedua langkah tersebut didorong oleh sikap konfrontatif terhadap Iran dan Mohammed bin Salman telah membiarkan meningkatnya persaingan regional meluap ke kebijakan minyak. Tahun lalu, dia turun tangan untuk menenggelamkan kesepakatan pembekuan produksi karena Iran menolak untuk berpartisipasi.

Meski demikian, pemerintahnya akan membutuhkan harga minyak mentah yang lebih tinggi untuk mendorong rencana mereformasi ekonomi kerajaan, sehingga perubahan yang segera dalam kebijakan minyak cenderung tidak akan terjadi.

Pada bulan Mei, Arab Saudi sepakat dengan anggota OPEC lainnya, termasuk Iran, serta sejumlah produsen non-OPEC untuk mempertahankan pembatasan produksi hingga tahun depan demi mendorong harga yang lesu.

“Penunjukan sang pangeran kemungkinan akan berarti perubahan minimal pada kebijakan produksi minyak, meskipun hal itu dapat menyebabkan tindakan kebijakan luar negeri yang lebih agresif yang membawa kembali risiko politik terhadap harga minyak mentah,” kata Helima Croft, kepala strategi komoditas di RBC Capital Markets LLC., seperti dikutip dari Bloomberg (Kamis, 22/6/2017).

Para pedagang minyak di London, Jenewa, dan Dubai memiliki pandangan yang sama. Dikatakan, bahkan sebelum ditunjuk sebagai putra mahkota, Mohammed bin Salman sudah mendikte jalur kebijakan energi Saudi. Secara khusus, dia membantu menegosiasikan aliansi dengan Rusia, yang menyebabkan kesepakatan pembatasan produksi tahun lalu.

“Bahkan jika ada kebijakan luar negeri yang lebih agresif, kami belum melihat adanya perubahan pada kebijakan minyak,” kata Amrita Sen, kepala analis minyak di Energy Aspects Ltd.

Tetap saja, kebijakan energi menimbulkan tantangan yang cukup besar yakni, pasar minyak yang kelebihan pasokan, pendapatan yang tidak mencukupi untuk menutupi pengeluaran negara, serta proyek ambisius untuk membawa Saudi Aramco melalui penawaran umum perdana yang dijadwalkan pada tahun depan.

Seperti diketahui, Arab Saudi, produsen terbesar di OPEC, memimpin keputusan OPEC pada bulan Mei untuk memperpanjang pengurangan produksi hingga Maret 2018 demi mengatasi kelebihan suplai minyak mentah, namun harga telah turun sejak itu.

Harga minyak melemah ke dalam kondisi bear market pekan ini akibat terbebani pasokan dari negara-negara di luar kesepakatan tersebut sehingga merongrong upaya untuk mengendalikan produksi.

Tag : Harga Minyak, arab saudi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top