Dua Sentimen Ini Dorong Harga Nikel

Harga nikel menguat dalam dua sesi perdagngan terakhir karena ditopang dua faktor positif, yakni meningkatnya permintaan baja stainless di China dan penghentian sejumlah smelter di Indonesia.
Hafiyyan | 20 Juni 2017 12:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Harga nikel menguat dalam dua sesi perdagngan terakhir karena ditopang dua faktor positif, yakni meningkatnya permintaan baja stainless di China dan penghentian sejumlah smelter di Indonesia.

Pada penutupan perdagangan Senin (19/6/2017) di bursa London Metal Exchange (LME), harga nikel meningkat 70 poin atau 0,78% menjadi US$9.010 per ton.

Sepanjang tahun berjalan, harga nikel merosot 10,08%, terburuk di antara logam dasar LME lainnya. Adapun pada 2016, harga nikel tumbuh 13,61% setelah ditutup di level US$10.020 per ton.

Analis SMM Wang Chong menyampaikan harga nikel terdorong oleh peningkatan permintaan baja stainless. Mengutip data Steelhome, harga baja meningkat 7% dalam dua hari terakhir.

“Dengan kebutuhan baja stainless yang semakin meningkat, persediaan bahan baku seperti nikel akan semakin cepat habis,” tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (20/6/2017).

Namun demikian, harga nikel tidak mungkin naik terlampau tinggi karena pasar masih menahan diri dalam melakukan pembelian. Investor masih mengantisipasi pertumbuhan pasokan di masa depan.

Harga nikel juga didukung oleh penghentian 13 smelter di Indonesia, termasuk yang masih dalam tahap konstruksi. Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I) Jonathan Handojo menyampaikan langkah tersebut dilakukan karena biaya produksi sudah melampaui harga jual.

“Mereka tidak punya pilihan lain kecuali menutup sementara,” ujarnya.

Kapasitas peleburan smelter tersebut mencapai 750.000 ton NPI. Adapun biaya produksi nikel di Indonesia berkisar US$9.000—US$10.000 per ton.

Menurutnya, harga perlu dikembalikan ke level US$13.000 per ton agar smelter dapat kembali beroperasi secara normal. “Kondisi saat ini benar-benar mengkhawatirkan. Jika berlanjut mungkin terjadi PHK besar-besaran,” paparnya.

Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc memprediksi pasar nikel akan mengalami surplus pasokan sebesar 37.000 ton pada 2017 dan 100.000 ton pada 2018. Oleh karena itu, harga berpotensi stagnan di posisi US$9.000 per ton sampai akhir 2017 dan semester I/2018.

Pasar mewaspadai bertumbuhnya suplai dari Indonesia yang kembali membuka keran ekspor bijih nikel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) sudah melaporkan Indonesia menghasilkan 10 juta ton bijih kelas rendah setiap tahun, dan 5,2 juta ton atau setara dengan 70.000 ton feronickel tersedia untuk pasar ekspor.

Dari tempat lain, penutupan tambang di Filipina berpotensi kembali dibuka setelah pemecatan Gina Lopez dari jabatannya sebagai Menteri Lingkun dan dan Sumber Daya Alam pada awal Mei 2017.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nikel

Sumber : bloomberg
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top