Libya Pulihkan Produksi, WTI Catat Penurunan Mingguan Terpanjang

Walaupun menguat, WTI telah merosot 2,4% sepanjang pekan lalu, yang merupakan penurunan minggu keempat berturut-turut.
Aprianto Cahyo Nugroho | 19 Juni 2017 06:56 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah mencatat penurunan mingguan terpanjang sejak Agustus 2015 karena Libya memulihkan produksi dan pasokan minyak di AS menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda.

West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli menetap ditutup menguat 0,6% ke level US$44,74 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Jumat (16/6/2017).

Walaupun menguat, WTI telah merosot 2,4% sepanjang pekan lalu, yang merupakan penurunan minggu keempat berturut-turut.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Agustus naik 45 sen ke level US$47,37 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Harga melemah 1,6% sepanjang pekan lalu.

Seperti dilansir Bloomberg, Libya, yang dibebaskan dari kesepakatan pengurangan pasokan OPEC, akan meningkatkan produksi menjadi 1 juta barel per hari pada akhir Juli, menurut pernyataan National Oil Co.

Sebelumnya, Badan Administrasi Energi AS melaporkan persediaan minyak turun dengan tingkat yang lebih rendah dari perkiraan.

Bill O'Grady, kepala strategi pasar Confluence Investment Management, mengatakan harga minyak saat ini sedang mencerminkan fundamental yang ada.

"Tingkat persediaan tetap tinggi.  Kenyataannya, sentimen yang menyebabkan rentang perdagangan ini tetap ada. Tidak ada yang berubah,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.

National Oil Co. menyatakan di situsnya resminya bahwa produksi Libya akan mencapai 900.000 barel per hari dalam beberapa hari ke depan. Produksi OPEC melonjak bulan lalu karena Libya dan Nigeria mengembalikan pasokan yang sebelumnya dihentikan oleh serangan dan krisis politik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga minyak mentah

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top