HARGA MINYAK: Terancam Kenaikan Produksi Libya, WTI Berakhir Turun 0,28%

Harga minyak WTI kontrak Juli 2017 berakhir turun 0,28% atau 0,14 poin ke US$49,66 per barel, setelah dibuka dengan kenaikan 0,26% di posisi 49,93.
Renat Sofie Andriani | 31 Mei 2017 07:38 WIB
Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), akibat tanda-tanda bangkitnya kembali produksi minyak mentah di Libya.

Selain itu, kekhawatiran tentang perpanjangan upaya pemangkasan produksi oleh para negara pengekspor utama mungkin tidak akan cukup untuk menahan kelebihan suplai global.

Harga minyak WTI kontrak Juli 2017 berakhir turun 0,28% atau 0,14 poin ke US$49,66 per barel, setelah dibuka dengan kenaikan 0,26% di posisi 49,93.

Adapun patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Juli 2017 ditutup dengan pelemahan 0,86% atau 0,45 poin ke US$51,84, setelah dibuka turun tipis 0,08% atau 0,04 poin di posisi 52,25.

Menurut National Oil Corporation, produksi minyak Libya yang sebelumnya mencapai 784.000 barel per hari (bph) karena masalah teknis di ladang Sharara, diperkirakan akan mulai meningkat menjadi 800.000 bph pada hari Selasa.

Sementara itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sejumlah produsen minyak lainnya, termasuk Rusia, pekan lalu sepakat untuk mempertahankan pengurangan produksi sekitar 1,8 juta barel per hari selama sembilan bulan lebih lama dari yang direncanakan semula.

Namun, harga anjlok setelah kesepakatan OPEC diumumkan. Pengurangan tersebut tampaknya masih belum berhasil untuk menahan persediaan minyak mentah secara signifikan.

“Pertanyaan utamanya adalah apakah upaya pemangkasan selanjutnya oleh OPEC mengakibatkan pengurangan ekspor yang sebenarnya, karena hal itu jelas akan jauh lebih berdampak pada harga global,” kata Tamar Essner, direktur senior energi dan utilitas di Nasdaq Corporate Solutions, seperti dikutip dari Reuters (Rabu, 31/5/2017).

Sebagian dari permasalahan OPEC adalah melonjaknya produksi minyak shale di Amerika Serikat (AS). Menurut firma jasa energi Baker Hughes, para pengebor di AS telah menambah jumlah rig untuk pekan ke-19 berturut-turut menjadi 722 rig, tertinggi sejak April 2015 sekaligus rentetan kenaikan terpanjang sepanjang sejarah.

Pasar akan memantau laporan persediaan mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA) yang masing-masing dirilis hari ini dan esok hari.

Harga minyak WTI selanjutnya pagi ini terpantau turun 0,02% ke US$49,65 per barel pada pukul 07.12 WIB, sedangkan harga minyak Brent naik 0,15% ke US$51,92 per barel.

 

Tag : Harga Minyak
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top