Harga CPO Turun 3 Sesi, Ini 2 Penyebabnya

Kendati mengalami peningkatan permintaan saat Ramadan, harga minyak kelapa sawit atau CPO menurun dalam tiga sesi perdagangan terakhir akibat penguatan ringgit dan pelemahan harga minyak global.
Hafiyyan | 30 Mei 2017 15:29 WIB
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati mengalami peningkatan permintaan saat Ramadan, harga minyak kelapa sawit atau CPO menurun dalam tiga sesi perdagangan terakhir akibat penguatan ringgit dan pelemahan harga minyak global.

Pada perdagangan Selasa (30/5/2017) pukul 14.50 WIB, harga CPO kontrak Agustus 2017 di bursa Malaysia merosot 35 poin atau 1,39% menuju 2.481 ringgit (US$579,27) per ton. Ini merupakan pelemahan dalam tiga sesi berturut-turut. Sepanjang tahun berjalan harga terkoreksi 10,84%.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menyampaikan harga CPO yang tertekan dalam tiga sesi terakhir disebabkan dua faktor, yakni menguatnya ringgit dan merosotnya harga minyak mentah global pasca rapat OPEC pada Kamis (25/5/2017).

Pada perdagangan Selasa (30/5/2017) pukul 15.06 WIB, mata uang ringgit melemah 0,25% menuju 4,283 per dolar AS, tetapi masih tumbuh 4,53% sepanjang tahun berjalan. Sementara indeks dolar menghijau 0,14%, tetapi menurun 4,52% secara year to date.

Pelemahan dolar terjadi akibat isu kontroversial seputar Presiden Donald Trump dan data ekonomi AS yang belum membaik, sehingga menguatkan nilai tukar ringgit. Sentimen ini membuat investor yang menggunakan mata uang lain merasa lebih mahal dan menunda pembelian.

Sementara merosotnya harga minyak terjadi akibat rapat OPEC pekan lalu yang hanya memperpanjang masa pemangkasan produksi sekitar 1,8 juta barel per hari (bph) sampai kuartal I/2017. Padahal pasar berharap pengurangan volume ditambah agar mengimbangi pertumbuhan suplai minyak shale dari AS.

"Proyeksi penguatan ringgit dan pelemahan harga minyak sementara menekan harga CPO," tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (30/5/2017).

Pasar tentunya menantikan data-data yang menunjukkan volume suplai dan permintaan. Namun, dengan estimasi sisi konsumsi hanya mengalami peningkatan signifikan selama momen Ramadan, harga CPO cenderung merosot ke depan.

Apalagi sisi suplai diperkirakan bakal mengalami pemulihan pada paruh kedua tahun ayam api. Oleh karena itu, Faisyal memprediksi harga CPO sampai akhir Juni 2017 cenderung melemah dengan rentang 2.400-2.700 ringgit per ton.

"Sampai akhir Juni, satu-satunya faktor yang menopang harga ialah permintaan saat Ramadan. Bila tidak cukup mengangkat harga, maka harga cenderung melemah sampai bulan depan," paparnya.

Tag : harga cpo, harga cpo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top