Akhir 2017, Rupiah Berpotensi Menuju Rp13.100

Mata uang rupiah diperkirakan cenderung bergerak menguat sampai akhir 2017 menuju Rp13.100 per dolar AS seiring dengan dorongan sejumlah faktor internal seperti kestabilan pertumbuhan ekonomi dan inflasi, serta penyematan rating investment grade.
Hafiyyan | 28 Mei 2017 19:21 WIB
Petugas memeriksa uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA -- Mata uang rupiah diperkirakan cenderung bergerak menguat sampai akhir 2017 menuju Rp13.100 per dolar AS seiring dengan dorongan sejumlah faktor internal seperti kestabilan pertumbuhan ekonomi dan inflasi, serta penyematan rating investment grade.

Pada penutupan perdagangan Jumat (26/5/2017), mata uang Garuda melemah 12 poin atau 0,09% menjadi Rp13.294 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13.279 – Rp13.308 per dolar AS dengan kurs tengah dipatok Rp13.295 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, harga masih menguat 1,33%.

Head of Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan sepanjang 2017 pergerakan rupiah masih sideways di area Rp13.250-Rp13.500 per dolar AS. Faktor eksternal diperkirakan bakal menjadi sentimen yang mendominasi, sedangkan faktor internal memberikan efek positif.

Tiga faktor internal yang memberikan dorongan positif ialah laju pertumbuhan ekonomi di atas 5%, inflasi yang stabil di kisaran 4%, dan penyematan investment grade dari tiga lembaga pemeringkat intenasional.

Pada Jumat (19/5/2017) lalu, Standard & Poor’s (S&P) menaikkan peringkat kredit jangka panjang Indonesia dari BB+/positif menjadi BBB-/stabil atau menjadi kategori investment grade. Selain S&P, lembaga pemeringkat Moody's Investors Service dan Fitch Ratings juga memiliki pandangan positif mengenai penilaian kredit Indonesia.

Adapun faktor eksternal yang menjadi pertimbangan utama pasar ialah kenaikan suku bunga lanjutan dari Federal Reserve dan arah kebijakan Presiden AS Donald Trump . Berbagai sikap kontroversi Trump membuat pasar meragukan program-program yang diinisiasi sang presiden bakal disetujui parlemen.

"Dalam waktu dekat, pasar akan mempertimbangkan peningkatan suku bunga dalam rapat Juni atau Juli," tuturnya kepada Bisnis.com baru-baru ini.

Belum stabilnya ekonomi AS, sambung Ariston, membuat The Fed hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada 2017. Sebelumnya Bank Sentral AS itu merencanakan penaikkan Fed Fund Rate (FFR) sebanyak tiga kali pada tahun ayam api, dan baru dilakukan pada sekali pada Maret 2017.

Melihat sikap Federal Reserve yang cenderung dovish, rupiah berpeluang semakin menguat sampai akhir 2017. Dia memprediksi secara perlahan mata uang Garuda akan bergerak menuju Rp13.100 per dolar AS.

Tag : Rupiah
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top