Sentimen Ini Ikut Topang Harga Minyak

Di samping isu pemangkasan suplai, pasar minyak juga ditopang sentimen risiko geopolitik di sejumlah negara sehingga semakin memanaskan harga.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 22 Mei 2017  |  18:45 WIB
Sentimen Ini Ikut Topang Harga Minyak
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Di samping isu pemangkasan suplai, pasar minyak juga ditopang sentimen risiko geopolitik di sejumlah negara sehingga semakin memanaskan harga.

Pada perdagangan Senin (22/5/2017) pukul 16.37 WIB, harga minyak WTI kontrak Juni 2017 naik 0,31 poin atau 0,62% menuju US$50,64 per barel. Sementara minyak Brent kontrak Juli 2017 meningkat 0,33 poin atau 0,62% menjadi US$53,94 per barel.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menyampaikan pasar lebih condong kepada sentimen rapat OPEC di Wina pada Rabu (25/5/2017) karena Arab Saudi dan Rusia yang secara de facto merupakan perwakilan OPEC dan non OPEC sepakat menambah masa pemangkasan suplai hingga Maret 2018. Oleh karena itu, hasil rapat dipercaya memberikan hasil yang memuaskan.

Menurutnya harga WTI pada pekan ini berpeluang mencapai US$53 per barel dengan batas bawah US$49 per barel. Sentimen lain yang diperhatikan ialah data produksi dan stok minyak AS.

"Kecenderungannya harga menguat. Namun masih ada tekanan dari data mingguan suplai dan persediaan minyak AS," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (22/5/2017).

Secara garis besar ada empat faktor utama yang memengaruhi harga minyak, yakni kesepakatan pemangkasan produksi, pelemahan dolar AS, pasokan AS, dan ketegangan politik di Timur Tengah.

Saat ini ada kecenderungan pemerintahan Presiden Donald Trum ingin melemahkan nilai greenback. Sentimen tersebut akan memacu pembelian komoditas berdenominasi dolar seperti minyak.

Sementara situasi di Timur Tengah memanas karena kian runyamnya hubungan antara Arab Saudi dan Iran. Bila konflik kian meruncing, harga minyak berpeluang melambung ke area US$55-US$60 per barel pada tahun ini.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pasar melihat Rusia dan Arab Saudi begitu serius menanggulangi masalah surplus suplai minyak. Pasalnya ketika harga WTI jatuh ke bawah US$50 per barel, perekonomian kedua negara tersebut mengalami hambatan.

Atas dasar itulah pasar optimistis perpanjangan pemangkasan produksi dalam jangka waktu 6--9 bulan sebesar 1,8 juta bph akan disepakati dalam rapat OPEC. Oleh karena itu, harga WTI berpeluang memanas menuju US$54 per barel.

"Jika kesepakatan tidak tercapai harga bisa merosot kembali ke US$48 per barel," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan harga minyak terbatas karena adanya potensi penambahan suplai dari AS dan Kanada. Bahkan Paman Sam akan memacu produksi hingga 10 juta bph pada 2018.

Secara teknikal, harga minyak WTI berpeluang mencapai level tertinggi US$57 per barel pada 2017 sesuai dengan proyeksi rerata harga dari Bank Dunia senilai US$55 per barel. Sentimen yang memberikan tenaga tambahan ialah faktor risiko geopolitik di AS, Timur Tengah, dan Korea Utara.

"Secara fundamental, paling tinggi harga WTI mencapai US$54 per barel. Namun dengan adanya risiko geopolitik, harga berpotensi menembus level tersebut untuk menuju US$57 per barel," paparnya.

Sebelumnya pada 30 November 2016, OPEC memutuskan memangkas produksi hingga 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi 32,5 juta bph pada paruh pertama tahun ayam api untuk memperbaiki harga minyak di pasar global yang menurun sejak pertengahan 2014.

Kemudian pada 10 Desember 2016, sembilan negara produsen lain seperti Rusia dan Meksiko - yang kerap disebut sebagai pihak non OPEC- setuju ikut pemangkasan suplai sebesar 558.000 bph.

Artinya, pemangkasan produksi yang berlangsung pada Januari 2017-Juni 2017 dengan target sekitar 1,8 juta bph. Tercapainya perjanjian ini cukup mengejutkan pasar karena terakhir kali OPEC dan non-OPEC mencapai mufakat terjadi pada 2001 silam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top