Investasi ala 'Jalur Sutera Modern' China Tarik Minat Negara Berkembang

Rencana Presiden China Xi Jinping untuk menghidupkan kembali jalur perdagangan yang menghubungkan China, Asia Tengah dan Eropa menjadi kampanye untuk meningkatkan pertumbuhan perdagangan dan ekonomi global.
Aprianto Cahyo Nugroho | 15 Mei 2017 12:06 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Presiden China Xi Jinping tiba untuk pertemuan di Great Hall of the People atau Balai Agung Rakyat, di Beijing, Minggu (14/5). - Reuters/Kenzaburo Fukuhara

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana Presiden China Xi Jinping untuk menghidupkan kembali jalur perdagangan yang menghubungkan China, Asia Tengah dan Eropa menjadi kampanye untuk meningkatkan pertumbuhan perdagangan dan ekonomi global.

Walaupun tren globalisasi mulai memudar di AS dan Eropa, "Belt and Road Initiative” (BRI) atau jalur sutera modern yang digagas Presiden Xi menarik minat negara-negara berkembang dan negara maju.

Ratusan pemimpin dan pejabat dari 110 negara peserta berkumpul pada pertemuan tingkat tinggi di Beijing hari ini untuk membahas rencana besar China mengenai jalur sutera modern. Negara-negara di sepanjang jalur sutera menyumbang 165 dari ekonomi global saat ini dan sekitar seperlima perdagangan global.

Dengan jangkauan China yang tampaknya tidak memiliki batasan geografis, negeri tirai bambu ini mengincar negara-negara lain untuk bergabung. Selandia Baru dan Afrika Selatan menjadi negara terbaru yang akan menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan China untuk mengikuti jalur sutera modern ini.

Dengan perkiraan total investasi sebesar US$13 miliar dalam 25 tahun, China mengembangkan pelabuhan utama di kota Kolombo, Sri Lanka, . Selain itu, juga mengembangkanjalur kereta api, kilang, jembatan, kawasan industri dari Bangladesh hingga Belarus.

Sebuah rute kereta yang menghubungkan pantai timur China dan London telah mulai beroperasi. Dengan jarak lebih dari 12.000 km dan melewati sembilan negara, jalur pengiriman tersebut memungkinkan kargo melintasi benua Eurasia hanya dalam 18 hari.

Namun, jika menilik sejarah investasi China, rencana ekspansi tersebut tidak selamanya berjalan mulus. Dari Afrika hingga Amerika Latin, Cina memiliki catatan investasi yang tidak mulus.

Ambil contoh di Venezuela. Proyek kereta api berkecepatan tinggi di negara Amerika Latin yang juga merupakan salah satu penerima pinjaman China terbesar tersebut mangkrak, setelah tahun lalu gagal membayar pokok pinjaman dalam program pinjaman karena krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri..

Bahkan di Myanmar, di mana permintaan uang China untuk mengembangkan infrastruktur sangat besar, proyek bendungan senilai US$3,6 miliar dihentikan menyusul protes warga lokal mengenai masalah lingkungan.

Banyak orang yang skeptis meragukan bahwa jalur sutera modern tersebut merupakan upaya China mengekspor kelebihan kapasitas industri dan berusaha menghasilkan kontrak baru untuk industri milik negara yang membengkak, atau yang lebih buruk lagi, memaksa semakin banyak tetangga mengikuti renaca strategisnya.

Di sisi lain, pihak yang optimis melihat investasi China membuka pertumbuhan ekonomi di wilayah yang luas. Bagi Xi, pertemuan tingkat tinggi ini merupakan kesempatan untuk meyakinkan dunia bahwa globalisasi memang memiliki momentum baru.

Tag : china
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top